★ RESUME KAJIAN ★
Masjid Al-Muchtar Galuh Mas
بسم اللّه الرّحمٰن الرّحيم
📒Tema : Agar Dicintai Allaah
🎓Pemateri : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA_hafizhahullaah_
🕌 Tempat : Masjid Al-Muchtar Galuh Mas Karawang
📅 Tanggal : Ahad, 06 Shofar 1441 H/ 06 Oktober 2019 M
Muqqoddimah
Semoga Allaah subhanahu wa ta'ala memberikan keberkahan dimanapun kita berada.
Al-Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullah mengupas suatu pembahasan yang penting dimana kita sering melakukannya dalam kehidupan sehari-hari yakni bagaimana kita bisa mencintai Allaah dan bagaimana kita bisa dicintai oleh Allaah, karena jika seseorang bisa mencintai Allaah maka akan merasakan kelezatan luar biasa di dalam ibadahnya sehingga tidak menjadikannya sebuah beban, dan jika seseorang telah mencintai Allaah maka akan lebih mudah baginya untuk ikhlas dalam beribadah.
Oleh karena itu al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan hakikat dari ikhlas adalah cinta kepada Allaah sehingga ia fokus bagaimana dirinya bisa beribadah yang membuatnya cinta kepada Allaah dan Allaah pun mencintainya.
Jika Allaah telah mencintai hambanya maka ia akan memberi perhatian khusus, Allaah mudahkan urusannya, Allaah akan menolongnya, dan Allaah tidak akan meninggalkannya.
Rukun Ibadah hati
1. Khauf (Rasa takut)
2. Raja' (Berharap)
3. Al-Mahabbah (Cinta)
Tatkala dalam beribadah seseorang sering menggabungkan ibadah dengan khauf dan raja', dan ini sesuatu yang luar biasa dan termasuk ciri orang shaleh.
Allaah subhanahu wa ta’ala berfirman,
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?”
(QS. Az-Zumar ayat 9)
Dia menggbungkan antara khauf dan Raja' maka Allaah subhanahu wa ta'ala memuji orang seperti ini dengan sifat para nabi
وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
"mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas"
(QS. Al Anbiyaa’ ayat 90).
Namun lebih indah lagi jika di dalamnya ada Cinta, sehingga dalam beribadah terdapat kelezatan.
Beda antara orang yangg melakukan shalat di masjid karena perintah apabila tidak dilakukan maka dapat dosa atau melakukannya karena menginginkan ganjaran pahala shalat 27 kali lipat, namun dalam melakukannya terdapat sedikit beban.
Berbeda jika terdapat Cinta maka itu merupakan kenikmatan sehingga hilang darinya rasa beban sedikitpun karena telah mencintai ibadah tersebut.
Sehingga Allaah sebut ciri-ciri mereka dalam sebuah hadits,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
“Tujuh golongan yang dinaungi Allaah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ
"seorang yang hatinya bergantung ke masjid"
Dalam Al-Qur'an Allaah mengabarkan bahwa dirinya memiliki rasa Cinta terhadap hamba
Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصّٰبِرِينَ
"Sungguh, Allaah beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah Ayat 153)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوّٰبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
" Sungguh, Allaah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang yang menyucikan diri."
(QS. Al-Baqarah Ayat 222)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Sungguh, Allaah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-Baqarah Ayat 195)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
"Sesungguhnya Allaah mencintai orang-orang yang bertakwa"
(QS. At-Taubat ayat 7)
Dalam Hadits
Rasulullah menjelaskan
احبّ ألعمال كذا وكذا...
"Amalan yang dicintai Allaah adalah begini begini..."
إنّ اللّه يحبّ كذا وكذا...
"Sesungguhnya Allah mencintai hamba begini, begini..."
Selain Hamba mencintai Allaah maka Allaah juga mencintai para hamba
Termasuk aqidah ahlussunnah wal jamaah adalah menetapkan bahwa Allaah bisa dicintai dan Allaah bisa mencintai.
Berbeda dengan ahlul bid'ah yang telah terkontaminasi dengan filsafat sehingga menyatakan bahwa Allaah tidak bisa dicintai dan mencintai.
Jika ada ayat Allaah Cinta, maka dia menta'wil bahwa maksudnya adalah Allaah menghendaki kebaikan, sehingga menolak adanya sifat Cinta Allaah.
Pencetus pemikiran mereka adalah Ja'd bin Dirham.
Siapakah Ja’d bin Dirham?
Dia adalah gurunya Jahm bin Shafwan (Tokoh Jahmiyah) sekaligus gembong ahli bid’ah. Dia pencetus bid’ah ta’thil (penafsiran sifat-sifat Allah). Dia menyatakan bahwa Allah tidak punya tangan, tidak berbicara kepada Nabi Musa, tidak menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil (kekasih)-Nya, dan penafian sifat Allah lainnya. Dia adalah guru Jahm bin Shofwan yang padanya dinisbahkan sebuah kelompok sesat menyesatkan, Jahmiyyah.
Khalid bin Abdullah al-Qasir seorang yang menyembelih Ja'd bin Dirmham pada saat hari raya Idul Adha, selesai shalat beliau berkhotbah di hadapan kaum muslimin seraya berkata: “Wahai sekalian manusia, pulanglah kalian lalu sembelihlah binatang kurban, semoga Allah menerima ibadah kurban kami dan kalian. Saya akan menyembelih Ja’d bin Dirham karena dia mengatakan bahwa Allah tidak menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil dan tidak berbicara kepada Nabi Musa (mendustakan Alquran pen.). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh Ja’d bin Dirham ini.” Lalu beliau turun dan menyembelih Ja’d bin Dirham.
Sehingga ia menolak 2 Firman Allaah sekaligus yakni
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
"Allaah menjadikan Ibrahim menjadi kekasih-Nya."
(QS. An-Nisa’ ayat 125)
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
"Dan Allaah telah berbicara kepada Musa dengan langsung"
(QS. An-Nisa ayat 164)
Allaah mencintai dan hamba pun mencintai terdapat dalam al-Qur'an,
Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman,
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥ
"Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya"
(QS. Al-Ma'idah Ayat 54)
Dan dalam sebuah hadits pun disebutkan,
Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai
Saat Perang Khaibar, Rasulullah hendak memberikan bendera komando perang kepada seseorang. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’adi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah, akan aku serahkan bendera ini esok hari kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberikan kemenangan melalui dirinya.” Maka semalam suntuk orang-orang (para sahabat) membicarakan tentang siapakah di antara mereka yang akan diberikan bendera tersebut. Keesokan harinya, para sahabat mendatangi Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?” Dijawab, “Kedua matanya sedang sakit.” Rasulullah memerintahkan, “Panggil dan bawa dia kemari.” Dibawalah Ali ke hadapan Rasulullah, lalu beliau meludahi kedua matanya yang sakit seraya berdoa untuknya. Seketika Ali sembuh total seolah-olah tidak tertimpa sakit sebelumnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan bendera kepadanya.
(HR. Muslim)
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mengatakan
"Saya tidak pernah berkeinginan untuk menjadi pemimpin kecuali hari itu, karena ingin mendapatkan predikat dicintai Allaah dan Rasulnya."
Itu merupakan dalil bahwa Allaah bisa dicintai dan Allaah bisa mencintai, dan para ulama mengatakan jika seseorang bisa dicintai oleh Allaah adalah anugerah terbesar seorang hamba, dan itu lebih baik daripada anugerah dunia, kesehatan, keluarga. Karena jika Allaah telah Cinta maka allah tidak akan mengadzab, Allaah akan menjaganya, Allaah tidak akan menyakiti.
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan pertanyaan seorang kepada seseorang yang lainnya Apakah di dalam al-quran terdapat dalil seorang yg mencintai tidak akan menyakiti org yg dicintainya?
Maka jawabannya ada,
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصٰرٰى نَحْنُ أَبْنٰٓؤُا اللَّهِ وَأَحِبّٰٓؤُهُۥ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُم ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَآءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
"Orang Yahudi dan Nasrani berkata, Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. Katakanlah (Muhammad), Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Tidak, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Dan milik Allah seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada-Nya semua akan kembali."
(QS. Al-Ma'idah Ayat 18)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خٰسِئِينَ
"Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabtu, lalu Kami katakan kepada mereka, Jadilah kamu kera yang hina!"
(QS. Al-Baqarah Ayat 65)
Apakah mungkin Allah mengadzab orang orang yg dicintai? Sedangkan nenek moyang mereka (Bani Israil) ada yang dirubah menjadi babi dan monyet berarti Allaah murka keada mereka, jika Allaah mencintai maka Allaah tidak akan mengadzabnya.
Dan itu merupakan dalil bahwa Allaah tidak akan mengadzab hamba yang dicintainya.
Apakah dia diberi ujian? ya, namun itu semua untuk kebaikannya, namun Allaah tidak akan menyiksanya, sebagaimana seorang ayah yang memarahi anaknya ketika salah maka itu merupakan rasa Cinta terhadap anaknya dalam bentuk mendidiknya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda
إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji”
(HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).
Faedah
Jika seseorang Cinta maka tidak akan menyakiti yang dicintai tersebut
Allaah Dzat yang maha kaya dan tinggi yg tidak butuh ibadah kita semua, tidak butuh shalat kita semua, namun itu semua kembali untuk diri kita.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri”.
فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ
“Barang siapa mendapat petunjuk, maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri."
(QS. Yunus ayat 108)
Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman hadits qudsi,
يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا
“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.”
(HR. Muslim no. 2577)
Allaah yang maha kaya yang tidak membutuhkan hamba-hambanya namun Allaah bisa mencintai hamba yang miskin yang maha hina yang sering melakukan maksiat kepadanya.
10 Sebab Seseorang dicintai oleh Allaah
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
Sesungguhnya sebab-sebab yang dapat mendatangkan kecintaan dari Allah subhanahu wa ta'ala ada sepuluh (yaitu):
Pertama
Membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an.
Salah seorang guru Al-Ustadz Firanda Andirja menceritakan ketika mensyarah hadits arba'in an-nawawi pada hadits,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim.”
(HR. Muslim).
Maka syaikh mengatakan,
Bagaimana anda bisa menghina orang ini sedangkan dia dimuliakan oleh Allaah, Allaah memberi penglihatan untuk melihat ciptaan-Nya, dia dikirim rasul untuk dia, Allaah turunkan kitab untuk dia agar paham, bagaimana anda bisa menghina orang ini sedangkan Allaah memuliakannya.
Maksdunya bahwa Allaah menurunkan Al-qur'an untuk kita (Ummat Muhammad), Allaah mengutus Rasul untuk kita, ini merupakan tanda Allaah memuliakan kita, lantas bagaimana mungkin ada seorang yang menghinakan saudaranya dimana Allaah memuliakannya?
Sejauh mana dia Cinta Al-qur'an maka sejauh itu juga dia Cinta kepada Allaah dan dicintai Allaah.
Kedua
Mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta (Cinta bertepuk sebelah tangan).
Imam ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan
ليس الشأن أنتحب ولكن الشأن أنتحب
"Perkaranya bukan bagaimana engkau mencintai Allaah, tetapi perkaranya apakah engkau dicintai Allaah"
Sehingga Allah menurunkan ayat untuk membantah orang yang mengaku-ngaku Cinta Allaah.
Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah jika kalian benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan memaafkan dosa-dosa kalian, dan Allah maha pengampun lagi penyayang.”
(QS. Ali-Imran ayat 31)
Bukti Seseorang mencintai Allaah adalah melakukan yamg sunnah setelah yang wajib.
Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam hadits qudsi:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
"Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”
Allaah berfirman dalam hadis qudsi :
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا .
“Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan mendengar, penglihatannya yang dia gunakan melihat, tangannya yang dia gunakan memukul dan kakinya yang digunakan berjalan.”
Faedah : Allaah akan membimbing hamba tersebut dalam segera pergerakannya.
◆Kisah Anas bin Nadhar radhiyallahu 'anhu◆
Terdapat suatu riwayat, adik perempuannya yang bernama Rubai’ pernah mematahkan gigi susu seorang wanita. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar diberlakukan qishash atasnya. Anas bin an-Nadhar berkata, “Demi jiwa yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jangan engkau balas mematahkan gigi susunya.”
Mereka lalu meminta tebusan dan tidak memberlakukan qishash. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang yang apabila bersumpah pasti dikabulkan.”
(HR. Al-Bukhari, 2805; Muslim, 1675.)
Anas bin Nadhar radhiyallahu 'anhu merupakan Shahabat yang mati di perang uhud yang disebutkan tatkala meninggal
“Kami dapati dalam tubuhnya lebih dari 80 tusukan pedang dan tombak serta kami dapati ia telah mati. Orang musyriklah yang menghancurkannya sehingga tidak ada seorang pun yang mengenali jenazah beliau selain adik perempuannya, ia mengetahui ciri-cirinya melalui jari-jari tangannya.”
Ketiga
Terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
فَاذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu."
(QS. Al-Baqarah Ayat 152)
“Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.”
اَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab beliau.
(HR. Ahmad 4: 188, sanad shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Jangan pernah tinggalkan dzikir, dan dzikir yang terbaik adalah membaca al-qur'an, atau membaca dzikir pagi dan petang.
Jika lupa untuk dzikir petang maka bisa membaca nya setelah maghrib, jika tidak bisa membaca seluruhnya maka bisa setengahnya dalam kondisi junub pun boleh berdzikir. Hendaknya lisan selalu basah dengan dzikir.
Keempat
Lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَىْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sampai kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui."
(QS. Ali 'Imran Ayat 92)
Para shahabat mengamalkannya dalam hal sederhana, ketika mereka bermuamalah dengan tawanan perang badar, mereka hendak membawa makanan untuk diberikan kepada tawanan mereka membawa roti dan kurma namun yang diberikan kepada mereka adalah roti dan yang mereka makan adalah kurma, sedangkan dizaman itu roti lebih baik daripada kurma, sehingga tatkala orang musyrik hendak memakannya merasa tidak enak dengan hal tersebut.
Kelima
Merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).
Keenam
Memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.
Sehingga hal ini dapat memotivasi seseorang untuk mencintai Allaah.
Ketujuh
Inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.
Ini sesuatu yang dapat mendekatkan diri keada Allah sehingga,
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.”
(QS. Al Baqarah ayat 222)
Kedelapan
Menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.”
(HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)
Kesembilan
Duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.
Kesepuluh
Menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.
Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.
Allaah mencintai hambanya
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا،
"Sesungguhnya Allaah Azza wa Jalla telah menjadikanku sebagai khalil-Nya sebagaimana Dia telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil (kesayangan)."
(HR. Muslim, no. 532 dari hadits Jundub bin Abdillah Radhiyallahu anhu)
Do'a yang pernah Rasulullah ucapkan.
اللّهمّ إنّي نسألك حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
“Aku memohon kepada-Mu agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang mendekatkan diriku untuk mencinta-Mu.”
فَلْيُبَلِّغْ الشَاهِدُ الغَائِبَ
“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
(HR. al-Bukhari dari Abu Bakar)
Semoga Allaah memberi petunjuk kepada kita semua untuk selalu ta'at kepadanya.
Wallaahu 'alam
Semoga Bermanfaat
بارك اللّه فيكم
Oleh : Doni Setio Pambudi (Abu Ubaidillah) .★ RESUME KAJIAN ★
Masjid Al-Muchtar Galuh Mas
بسم اللّه الرّحمٰن الرّحيم
📒Tema : Agar Dicintai Allaah
🎓Pemateri : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA_hafizhahullaah_
🕌 Tempat : Masjid Al-Muchtar Galuh Mas Karawang
📅 Tanggal : Ahad, 06 Shofar 1441 H/ 06 Oktober 2019 M
Muqqoddimah
Semoga Allaah subhanahu wa ta'ala memberikan keberkahan dimanapun kita berada.
Al-Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullah mengupas suatu pembahasan yang penting dimana kita sering melakukannya dalam kehidupan sehari-hari yakni bagaimana kita bisa mencintai Allaah dan bagaimana kita bisa dicintai oleh Allaah, karena jika seseorang bisa mencintai Allaah maka akan merasakan kelezatan luar biasa di dalam ibadahnya sehingga tidak menjadikannya sebuah beban, dan jika seseorang telah mencintai Allaah maka akan lebih mudah baginya untuk ikhlas dalam beribadah.
Oleh karena itu al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan hakikat dari ikhlas adalah cinta kepada Allaah sehingga ia fokus bagaimana dirinya bisa beribadah yang membuatnya cinta kepada Allaah dan Allaah pun mencintainya.
Jika Allaah telah mencintai hambanya maka ia akan memberi perhatian khusus, Allaah mudahkan urusannya, Allaah akan menolongnya, dan Allaah tidak akan meninggalkannya.
Rukun Ibadah hati
1. Khauf (Rasa takut)
2. Raja' (Berharap)
3. Al-Mahabbah (Cinta)
Tatkala dalam beribadah seseorang sering menggabungkan ibadah dengan khauf dan raja', dan ini sesuatu yang luar biasa dan termasuk ciri orang shaleh.
Allaah subhanahu wa ta’ala berfirman,
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?”
(QS. Az-Zumar ayat 9)
Dia menggbungkan antara khauf dan Raja' maka Allaah subhanahu wa ta'ala memuji orang seperti ini dengan sifat para nabi
وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
"mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas"
(QS. Al Anbiyaa’ ayat 90).
Namun lebih indah lagi jika di dalamnya ada Cinta, sehingga dalam beribadah terdapat kelezatan.
Beda antara orang yangg melakukan shalat di masjid karena perintah apabila tidak dilakukan maka dapat dosa atau melakukannya karena menginginkan ganjaran pahala shalat 27 kali lipat, namun dalam melakukannya terdapat sedikit beban.
Berbeda jika terdapat Cinta maka itu merupakan kenikmatan sehingga hilang darinya rasa beban sedikitpun karena telah mencintai ibadah tersebut.
Sehingga Allaah sebut ciri-ciri mereka dalam sebuah hadits,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
“Tujuh golongan yang dinaungi Allaah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ
"seorang yang hatinya bergantung ke masjid"
Dalam Al-Qur'an Allaah mengabarkan bahwa dirinya memiliki rasa Cinta terhadap hamba
Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصّٰبِرِينَ
"Sungguh, Allaah beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah Ayat 153)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوّٰبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
" Sungguh, Allaah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang yang menyucikan diri."
(QS. Al-Baqarah Ayat 222)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Sungguh, Allaah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-Baqarah Ayat 195)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
"Sesungguhnya Allaah mencintai orang-orang yang bertakwa"
(QS. At-Taubat ayat 7)
Dalam Hadits
Rasulullah menjelaskan
احبّ ألعمال كذا وكذا...
"Amalan yang dicintai Allaah adalah begini begini..."
إنّ اللّه يحبّ كذا وكذا...
"Sesungguhnya Allah mencintai hamba begini, begini..."
Selain Hamba mencintai Allaah maka Allaah juga mencintai para hamba
Termasuk aqidah ahlussunnah wal jamaah adalah menetapkan bahwa Allaah bisa dicintai dan Allaah bisa mencintai.
Berbeda dengan ahlul bid'ah yang telah terkontaminasi dengan filsafat sehingga menyatakan bahwa Allaah tidak bisa dicintai dan mencintai.
Jika ada ayat Allaah Cinta, maka dia menta'wil bahwa maksudnya adalah Allaah menghendaki kebaikan, sehingga menolak adanya sifat Cinta Allaah.
Pencetus pemikiran mereka adalah Ja'd bin Dirham.
Siapakah Ja’d bin Dirham?
Dia adalah gurunya Jahm bin Shafwan (Tokoh Jahmiyah) sekaligus gembong ahli bid’ah. Dia pencetus bid’ah ta’thil (penafsiran sifat-sifat Allah). Dia menyatakan bahwa Allah tidak punya tangan, tidak berbicara kepada Nabi Musa, tidak menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil (kekasih)-Nya, dan penafian sifat Allah lainnya. Dia adalah guru Jahm bin Shofwan yang padanya dinisbahkan sebuah kelompok sesat menyesatkan, Jahmiyyah.
Khalid bin Abdullah al-Qasir seorang yang menyembelih Ja'd bin Dirmham pada saat hari raya Idul Adha, selesai shalat beliau berkhotbah di hadapan kaum muslimin seraya berkata: “Wahai sekalian manusia, pulanglah kalian lalu sembelihlah binatang kurban, semoga Allah menerima ibadah kurban kami dan kalian. Saya akan menyembelih Ja’d bin Dirham karena dia mengatakan bahwa Allah tidak menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil dan tidak berbicara kepada Nabi Musa (mendustakan Alquran pen.). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh Ja’d bin Dirham ini.” Lalu beliau turun dan menyembelih Ja’d bin Dirham.
Sehingga ia menolak 2 Firman Allaah sekaligus yakni
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
"Allaah menjadikan Ibrahim menjadi kekasih-Nya."
(QS. An-Nisa’ ayat 125)
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
"Dan Allaah telah berbicara kepada Musa dengan langsung"
(QS. An-Nisa ayat 164)
Allaah mencintai dan hamba pun mencintai terdapat dalam al-Qur'an,
Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman,
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥ
"Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya"
(QS. Al-Ma'idah Ayat 54)
Dan dalam sebuah hadits pun disebutkan,
Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai
Saat Perang Khaibar, Rasulullah hendak memberikan bendera komando perang kepada seseorang. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’adi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah, akan aku serahkan bendera ini esok hari kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberikan kemenangan melalui dirinya.” Maka semalam suntuk orang-orang (para sahabat) membicarakan tentang siapakah di antara mereka yang akan diberikan bendera tersebut. Keesokan harinya, para sahabat mendatangi Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?” Dijawab, “Kedua matanya sedang sakit.” Rasulullah memerintahkan, “Panggil dan bawa dia kemari.” Dibawalah Ali ke hadapan Rasulullah, lalu beliau meludahi kedua matanya yang sakit seraya berdoa untuknya. Seketika Ali sembuh total seolah-olah tidak tertimpa sakit sebelumnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan bendera kepadanya.
(HR. Muslim)
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mengatakan
"Saya tidak pernah berkeinginan untuk menjadi pemimpin kecuali hari itu, karena ingin mendapatkan predikat dicintai Allaah dan Rasulnya."
Itu merupakan dalil bahwa Allaah bisa dicintai dan Allaah bisa mencintai, dan para ulama mengatakan jika seseorang bisa dicintai oleh Allaah adalah anugerah terbesar seorang hamba, dan itu lebih baik daripada anugerah dunia, kesehatan, keluarga. Karena jika Allaah telah Cinta maka allah tidak akan mengadzab, Allaah akan menjaganya, Allaah tidak akan menyakiti.
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan pertanyaan seorang kepada seseorang yang lainnya Apakah di dalam al-quran terdapat dalil seorang yg mencintai tidak akan menyakiti org yg dicintainya?
Maka jawabannya ada,
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصٰرٰى نَحْنُ أَبْنٰٓؤُا اللَّهِ وَأَحِبّٰٓؤُهُۥ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُم ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَآءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
"Orang Yahudi dan Nasrani berkata, Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. Katakanlah (Muhammad), Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Tidak, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Dan milik Allah seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada-Nya semua akan kembali."
(QS. Al-Ma'idah Ayat 18)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خٰسِئِينَ
"Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabtu, lalu Kami katakan kepada mereka, Jadilah kamu kera yang hina!"
(QS. Al-Baqarah Ayat 65)
Apakah mungkin Allah mengadzab orang orang yg dicintai? Sedangkan nenek moyang mereka (Bani Israil) ada yang dirubah menjadi babi dan monyet berarti Allaah murka keada mereka, jika Allaah mencintai maka Allaah tidak akan mengadzabnya.
Dan itu merupakan dalil bahwa Allaah tidak akan mengadzab hamba yang dicintainya.
Apakah dia diberi ujian? ya, namun itu semua untuk kebaikannya, namun Allaah tidak akan menyiksanya, sebagaimana seorang ayah yang memarahi anaknya ketika salah maka itu merupakan rasa Cinta terhadap anaknya dalam bentuk mendidiknya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda
إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji”
(HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).
Faedah
Jika seseorang Cinta maka tidak akan menyakiti yang dicintai tersebut
Allaah Dzat yang maha kaya dan tinggi yg tidak butuh ibadah kita semua, tidak butuh shalat kita semua, namun itu semua kembali untuk diri kita.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri”.
فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ
“Barang siapa mendapat petunjuk, maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri."
(QS. Yunus ayat 108)
Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman hadits qudsi,
يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا
“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.”
(HR. Muslim no. 2577)
Allaah yang maha kaya yang tidak membutuhkan hamba-hambanya namun Allaah bisa mencintai hamba yang miskin yang maha hina yang sering melakukan maksiat kepadanya.
10 Sebab Seseorang dicintai oleh Allaah
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
Sesungguhnya sebab-sebab yang dapat mendatangkan kecintaan dari Allah subhanahu wa ta'ala ada sepuluh (yaitu):
Pertama
Membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an.
Salah seorang guru Al-Ustadz Firanda Andirja menceritakan ketika mensyarah hadits arba'in an-nawawi pada hadits,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim.”
(HR. Muslim).
Maka syaikh mengatakan,
Bagaimana anda bisa menghina orang ini sedangkan dia dimuliakan oleh Allaah, Allaah memberi penglihatan untuk melihat ciptaan-Nya, dia dikirim rasul untuk dia, Allaah turunkan kitab untuk dia agar paham, bagaimana anda bisa menghina orang ini sedangkan Allaah memuliakannya.
Maksdunya bahwa Allaah menurunkan Al-qur'an untuk kita (Ummat Muhammad), Allaah mengutus Rasul untuk kita, ini merupakan tanda Allaah memuliakan kita, lantas bagaimana mungkin ada seorang yang menghinakan saudaranya dimana Allaah memuliakannya?
Sejauh mana dia Cinta Al-qur'an maka sejauh itu juga dia Cinta kepada Allaah dan dicintai Allaah.
Kedua
Mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta (Cinta bertepuk sebelah tangan).
Imam ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan
ليس الشأن أنتحب ولكن الشأن أنتحب
"Perkaranya bukan bagaimana engkau mencintai Allaah, tetapi perkaranya apakah engkau dicintai Allaah"
Sehingga Allah menurunkan ayat untuk membantah orang yang mengaku-ngaku Cinta Allaah.
Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah jika kalian benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan memaafkan dosa-dosa kalian, dan Allah maha pengampun lagi penyayang.”
(QS. Ali-Imran ayat 31)
Bukti Seseorang mencintai Allaah adalah melakukan yamg sunnah setelah yang wajib.
Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam hadits qudsi:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
"Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”
Allaah berfirman dalam hadis qudsi :
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا .
“Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan mendengar, penglihatannya yang dia gunakan melihat, tangannya yang dia gunakan memukul dan kakinya yang digunakan berjalan.”
Faedah : Allaah akan membimbing hamba tersebut dalam segera pergerakannya.
◆Kisah Anas bin Nadhar radhiyallahu 'anhu◆
Terdapat suatu riwayat, adik perempuannya yang bernama Rubai’ pernah mematahkan gigi susu seorang wanita. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar diberlakukan qishash atasnya. Anas bin an-Nadhar berkata, “Demi jiwa yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jangan engkau balas mematahkan gigi susunya.”
Mereka lalu meminta tebusan dan tidak memberlakukan qishash. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang yang apabila bersumpah pasti dikabulkan.”
(HR. Al-Bukhari, 2805; Muslim, 1675.)
Anas bin Nadhar radhiyallahu 'anhu merupakan Shahabat yang mati di perang uhud yang disebutkan tatkala meninggal
“Kami dapati dalam tubuhnya lebih dari 80 tusukan pedang dan tombak serta kami dapati ia telah mati. Orang musyriklah yang menghancurkannya sehingga tidak ada seorang pun yang mengenali jenazah beliau selain adik perempuannya, ia mengetahui ciri-cirinya melalui jari-jari tangannya.”
Ketiga
Terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
فَاذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu."
(QS. Al-Baqarah Ayat 152)
“Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.”
اَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab beliau.
(HR. Ahmad 4: 188, sanad shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Jangan pernah tinggalkan dzikir, dan dzikir yang terbaik adalah membaca al-qur'an, atau membaca dzikir pagi dan petang.
Jika lupa untuk dzikir petang maka bisa membaca nya setelah maghrib, jika tidak bisa membaca seluruhnya maka bisa setengahnya dalam kondisi junub pun boleh berdzikir. Hendaknya lisan selalu basah dengan dzikir.
Keempat
Lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَىْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sampai kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui."
(QS. Ali 'Imran Ayat 92)
Para shahabat mengamalkannya dalam hal sederhana, ketika mereka bermuamalah dengan tawanan perang badar, mereka hendak membawa makanan untuk diberikan kepada tawanan mereka membawa roti dan kurma namun yang diberikan kepada mereka adalah roti dan yang mereka makan adalah kurma, sedangkan dizaman itu roti lebih baik daripada kurma, sehingga tatkala orang musyrik hendak memakannya merasa tidak enak dengan hal tersebut.
Kelima
Merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).
Keenam
Memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.
Sehingga hal ini dapat memotivasi seseorang untuk mencintai Allaah.
Ketujuh
Inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.
Ini sesuatu yang dapat mendekatkan diri keada Allah sehingga,
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.”
(QS. Al Baqarah ayat 222)
Kedelapan
Menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.”
(HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)
Kesembilan
Duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.
Kesepuluh
Menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.
Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.
Allaah mencintai hambanya
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا،
"Sesungguhnya Allaah Azza wa Jalla telah menjadikanku sebagai khalil-Nya sebagaimana Dia telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil (kesayangan)."
(HR. Muslim, no. 532 dari hadits Jundub bin Abdillah Radhiyallahu anhu)
Do'a yang pernah Rasulullah ucapkan.
اللّهمّ إنّي نسألك حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
“Aku memohon kepada-Mu agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang mendekatkan diriku untuk mencinta-Mu.”
فَلْيُبَلِّغْ الشَاهِدُ الغَائِبَ
“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
(HR. al-Bukhari dari Abu Bakar)
Semoga Allaah memberi petunjuk kepada kita semua untuk selalu ta'at kepadanya.
Wallaahu 'alam
Semoga Bermanfaat
بارك اللّه فيكم
Oleh : Doni Setio Pambudi (Abu Ubaidillah) .
berbagilebih
Senin, 27 Januari 2020
10 Pembatal Keislaman
◆ RESUME KAJIAN ◆
Karawang Mengaji Tauhid
بسم اللّه الرّحمٰن الرّحيم
📒Tema : 10 Pembatal Keislaman
🎓Pemateri : Ustadz Sofyan Cholid bin Idham Ruray, Lc hafizhahullaah
🕌 Tempat : Masjid Jami' Aliyah Karawang
📅 Tanggal : Ahad, 24 Jumadil 'Ula1441 H/ 19 Januari 2020 M
Hendaknya seseorang mempelajari permasalahan ini, karena ini merupakan hal yang sangat penting
Semoga Allah subhanahu wata'ala senantiasa memberikan pemahaman ilmu kepada kita semua, Aamiin.
Muqoddimah
Alhamdulillaah hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fiih kamaa yuhibbu rabbuna wa yardha, wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Menjaga tauhid, keimanan, dan keislaman merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan kita. Seseorang selamat dari adzab Allah apabila memiliki keimanan yanh benar dan serta memiliki keimanan yang sah tidak dicampuri dengan kesyirikan sedikitpun.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوٓا إِيمٰنَهُمْ بِظُلْمٍ أُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُونَ
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk."
(QS. Al-An'am Ayat 82)
Nikmat aman dalam ayat di atas maksudnya adalah selamat dari adzab Allah di dunia dan akhirat, ayat ini juga menjelaskan kepada kita jalan keselamatan. Hidayah diperoleh dengan cara menjaga keimanan dan keislaman.
Sebaliknya Allah ingatkan kepada yang kafir kepada Allah dan orang yang batal imannya maka mereka termasuk penghuni neraka dan kekal di dalamnya dan mereka seburuk-buruk makhluk.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُولٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
"Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk."
(QS. Al-Bayyinah Ayat 6)
Menjaga Iman dan Islam suatu yang penting, jika kita berjumpa dengan Allah dengan tidak membawa dosa ini maka kita selamat dan jika membawa dosa ini maka kita akan celaka.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi rahimahullah mengatakan,
اعلم أن نواقض الإسلام عشرة
Ketahuilah bahwasannya pembatal keislaman itu ada sepuluh.
Namun sepuluh yang dimaksud disini bukan pembatasan, karena pembatasan pembatal keislaman sangat banyak
Beliau mengingatkan sepuluh disini dengan alasan;
1. Sepuluh disini merupakan yang paling banyak terjadi
2. Sepuluh disini ini yang telah disepakati oleh ulama dan tidak ada khilaf perbedaan pendapat, dan dosa ini jika dilakukan oleh seseorang maka membatalkan keislamannya.
1⃣. Berbuat Syirik di dalam Ibadah kepada Allaah
الشرك في عبادةالله تعالى
Karena ibadah hakikatnya khusus hanya milik Allah, Makna dari syirik yaitu menyamakan Allah dengan Makhluk dalam perkara yang khusus bagi Allah.
Oleh sebabnya orang yang beribadah kepada selain Allah atau membuat tandingan ibadah pada selain Allah maka dia telah berbuat syirik, walau dia hanya sebuah berkeyakinan ada sesuatu yang boleh disembah selain Allah.
Kenapa dosa syirik sangat dimurkai oleh Allah?
Karena dosa syirik merupakan penghinaat terhadap Allah, ketika Allah yang merajai, menguasai, yang maha tinggi disamakan dengan makhluk dimana makhluk itu lemah, hina, kotor dan penuh dosa baik secara lahir maupun batin, sehingga jika disamakan maka pelecehan yang sangat besar terhadap Allah subhanahu wata'ala.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…”
(QS. An-Nisa’ Ayat 48)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًۢا بَعِيدًا
"Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali."
(QS. An-Nisa' Ayat 116)
Dalam kedua ayat tersebut memiliki lafadz yang sama, hanya saja berbeda pada lafadz yang terakhirnya.
Ayat ini merupakan konsekuensi bagi orang yang berbuat syirik lalu mati dalam keadaan belum bertaubat.
Namun jika dia bertaubat dari dosa syirik maka Allah ampuni seluruh dosanya.
Bahkan orang yang tadinya musyrik, lalu masuk islam maka sebuah kebaikan yang dilakukannya selama ia musyrik menjadi sebuah pahala kebaikan.
◆ Contoh pada kisah
Shahabat Amr bin Ash radhiyallahu anhu
قُلْتُ: أَنْ يُغْفَرَلِى. قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ اْلإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهَا؟ وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ ؟
Maka aku berkata, ‘Agar aku diampuni.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah engkau belum tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu menghapus dosa-dosa sebelumnya?’”
(HR. Muslim: Kitabul Iman no. 121)
Sehingga Ulama mengatakan tauhid adalah sebab terbesar seseorang mendapat ampunan Allah.
◆ Contoh jika ada orang berbuat dosa khamr dan riba, lalu dia taubat dari khamr dan dosa ribanya ia belum sempat bertaubat maka Allah ampuni dosa khamrnya dan dosa riba belum diampuni. Namun, jika taubat dari syirik maka akan diampuni seluruh dosanya.
Di dalam hadits qudsi dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.”
(HR. Tirmidzi no. 3540. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Abu Thohir)
Makna disini yaitu tidak melakukan dosa syirik kecil maupun syirik besar. Orang yang datang berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa sepenuh bumi saja masih ada harapan diampuni dengan syarat tidak berbuat syirik.
Lalu Sabda Rasul keada Hakim bin Hizam,
عن حَكِيم بن حِزَامٍ رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ:يَا رَسُولَ اللهِ! أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ: مِنْ صِلَةٍ وَعَتَاقَةٍ وَصَدَقَةٍ، هَلْ لِي فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ”.
Dari Hakim bin Hizam bahwasanya ia berkata: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang perkara-perkara kebaikan yang dahulu di masa jahiliyah sebelum saya masuk Islam aku melakukannya: berupa menyambung tali silaturahim, memerdekakan budak, bersedekah, Apakah aku mendapatkan pahala hai Rasulullah?”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau masuk Islam diatas kebaikan kebaikan yang telah kamu lakukan dahulu”
(HR. Al-Bukhari)
Namun jika seseorang melakukan kesyiirikan maka amalan tersebut yang akan terhapuskan,
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخٰسِرِينَ
"Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi."
(QS. Az-Zumar Ayat 65)
Ini merupakan bahaya dosa syirik yang dapat menghapus amalan seseorang sehingga tidak mendapatkan amlunan Allah jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat.
Namun, jika seseorang tidak bertaubat dari dosa selain syirik maka ada kemungkinan diampuni, karena ada ada sebab lain yang dapat mengampuni dosa tersebut, yaitu sebab kebaikan yang ia lakukan di dunia,
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِينَ
"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)."
(QS. Hud 11: Ayat 114)
Atau dalam kisah yang mahsyur,
Dari shahabat Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا
“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.”
(HR. Muslim no. 2245).
Begitu juga musibah yang menimpa seseorang dapat menghapus dosa, namun perlu diingat bahwa dosa yang bisa dihapuskan dengan amal shaleh hanya dosa selain syirik, karena dosa syirik hanya bisa dihapuskan dengan taubat.
Selama seseorang masih muslim, seseorang boleh untuk medo'akannya ketika mati, jika itu orang tua kita maka lebih wajib lagi bagi kita untuk mendoakannya.
Adapun jika orang itu yang berbuat syirik sehingga menyebabkan keluar dari islam maka kita dilarang untuk mendo'akannya atau memohonkan ampun kepadanya.
Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوٓا أُولِى قُرْبٰى مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحٰبُ الْجَحِيمِ
"Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya) setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni Neraka Jahanam."
(QS. At-Taubah Ayat 113)
Ayat di atas ashbabun nuzul nya ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendoakan pamannya Abu Thalib yang mati dalam keadaan kafir.
Orang yang berbuat dosa besar dan selama bukan syirik, seandainya Allah tidak mengampuni maka Allah masukkan ia ke dalam neraka namun tidak kekal di dalamnya.
Adapun orang yang berbuat syirik pasti masuk neraka.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوٓا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يٰبَنِىٓ إِسْرٰٓءِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظّٰلِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu."
(QS. Al-Maidah Ayat 72)
Contoh perbuatan syirik dalam ibadah adalah
1. Menyembelih untuk selain Allah
Menyembelih untuk pendekatan dan pengagungan terhadap selain Allah, seperti orang yang menyembah kepada jin atau menyembah kepada kubur.
Semua ibadah jika dipersembahkan kepada selain Allah maka itu termasuk syirik dalam uluhiyyah (peribadahan), dan itu kufur.
◆ Syaikh menyebutkan contoh mengembah jin dan kubur karena ini yang paling banyak terjadi.
Karena setiap orang hampir tidak ada sekutukan Shalat, Haji dalam ibadah ini karena mereka paham bahwa melakukan demikian itu tidak boleh.
Namun faktanya ada orang yang demikian, ada orang shalat kepada selain Allah,
contoh:
Orang yang datang ke suatu masjid karena dia meyakini di masjid tersebut ada kuburan keramat orang shaleh, sehingga dia shalat di masjid tersebut demi mengagungkan penghuni kubur tersebut namun karena keyakinan tersebut ada hakikatnya ia telah menyembah penghuni kubur, karena hakitkat dari ibadah adalah kecintaan dan pengagungan.
Kenapa hal ini banyak terjadi?
Karena diantara tipu daya setan terhadap manusia adalah membuat suatu dosa dengan menamakan dan menggambarkan yang buruk dengan rupa yang Bagus dan Indah.
◆ Contoh sangat banyak:
-Riba disebut Bunga
-Racun disebut selera pemberani
-Dosa syirik menyembah selain allah dinamakan sedekah bumi, sedekah laut.
Sehingga banyak orang yang terjerumus di dalam hal ini, mereka menakut-nakuti supaya banyak orang mau menyembelih untuk mereka, bahkan orang-orang menyebut hal tersebut dengan Kearifan lokal, bahkan saking bodohnya mereka menjadikna itu sebagai wisata budaya. Naudzubillah
Sebaliknya, yang baik-baik, yaitu ajaran islam yang sebenarnya digambar oleh setan disebut keburukan.
Sehingga muncul perkataan "yang suka larang-larang syirik adalah Wahabi, Radikal." dan selebihnya, sehingga tuduhan mereka terhadap orang melarang syirik hanya sepanjang lidahnya saja.
Ketahuilah bahwa menyembelih merupakan ibadah yang sangat agung
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعٰلَمِينَ
"Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,"
(QS. Al-An'am Ayat 162)
Dari Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
لعن الله من ذبح لغير الله
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.
(HR. Muslim no 1978)
2. Termasuk ibadah syirik adalah Tawakkal
Kita hanya boleh menggantungkan hati hanya kepada Allah saja, apabila kita gantung/menyandarkan hati keada selain Allah maka itu kesyirikan.
Oleh sebab itu mempercayai jimat adalah syirik, kenapa syirik? Karena menggantungkan hati kita kepadanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.”
(HR. Abu Dawud, shahih)
Begitu juga jika hati kita bersandar kepada hari-hari yang kita anggap kebaikan atau anggap sial, karena jika hati seseorang menggantung kan kepada hari tersebut maka telah berbuat syirik.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ، فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa dihalangi oleh perasaan takut sial untuk melakukan hajatnya maka ia telah menyekutukan Allah."
(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah:1065, Shahihul Jaami’: 6264)
2⃣.Orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah peramtara, yaitu dengan berdoa, memohon syafa'at, serta bertawakkal kepada mereka
من جعل بينه وبين الله وسائط يد عو هم ويسألهم الشفاعة ويتو كل عليهم، كفر إجماعا
Orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah, yaitu dengan berdo’a, memohon syafa’at, serta bertawakkal kepada mereka.
Perbuatan-perbuatan tersebut termasuk amalan kekufuran menurut ijma’ (kesepakatan para ulama).
Yaitu orang yang berdo'a kepada selain Allah yang mana ibadah tersebut (do'a) hanya mampu dikabulkan oleh Allah maka itu syirik, karena doa itu merupakan bagian dari ibadah.
Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ
”Doa adalah ibadah.”
(HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Dan Rabbmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."
(QS. Ghafir Ayat 60)
Ayat ini merupakan dalil bahwa doa merupakan ibadah, dan meneegaskan bahwa orang sombong tidak mau do'a keada Allah sehingga dia masuk neraka dalam keadaan hina.
Sehingga jika berdoa kepada makhluk maka dia telah menyekutukan ibadah kepada selain Allah.
Syubhat!!!
Mereka sebut ini katakan Tawassul,
Maka ini bukan tawasul syar'i, tapi yang terlarang
Tawassul ada 2
1. Tawassul yang syariat
2. Tawassul yang dilarang
1. Yng disyariatkan yaitu dengan dalil ada tiga bentuk
A. Tawasul dengan Nama dan sifat Allah
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَآءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوهُ بِهَا
"Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu"
(QS. Al-A'raf Ayat 180)
Juga Rasulullah mencontohnya,
Rasulullah menyeebut dua nama yaitu hayyu dan qoyyum dan satu sifat yaitu rahmat
Beliau senantiasa berdo'a
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan
-artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.”
(HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 46, An-Nasa’i)
B. Tawassul dengan amal shaleh
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"(Yaitu) orang-orang yang berdoa, Ya Rabb kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka."
(QS. Ali 'Imran Ayat 16)
Maksud ayat ini yaitu kami sudah beriman (amalan) ini bagian dari ibadah, lalu ia meminta diampuni dosa dan dilindungi dari adzab neraka.
C. Tawassul dengan doa orang shaleh
Tawassul dengan Amal shaleh dengan tiga syarat ;
C.1 Masih hidup
Jika berdoa kepada orang yang sudah mati maka telah musyrik.
C.2 Hadir, maknanya yaitu bisa komunikasi secara wajar,
Tidak disamakan komunikasi dengan dia seperti kita berdoa kepada Allah.
Misal kita ada disini dan orang lain ada disana yang begitu jauh, sehingga beranggapan orang yang jauh tersebut seakan-akan dia maha mendengar seperti Allah yg maha mendengar. Sehingga orang tersebut tidak memiliki kemampuan tersebut.
C.3 Orang Shaleh beneran
Karena tidak sedikit orang menganggap orang shaleh namun kenyataanya ia dukun.
Minta doa kepada dukun berarti berbuat syirik, percaya saja sudah syirik, karena dukun berdoa pada syaitan bukan kepada Allah.
Note:
Shahabat minta didoakan kepada Rasulullah itu ketika beliau msih hidup, setelah Rasulullah wafat tidak ada yang meminta di do'akan kepada Rasulullah sebagai perantara.
2. Tawasul yang dilarang
Tawassul yang di larang ada dua tingkatan;
A. Tingkatan syirik
Tingkatan syirik ini bentuknya dua;
A.1 Orang yang menjadikan makhluk sebagai perantara kepada Allah dengan maksud agar doanya di teruskan kepada Allah, maka ini syirik, karena doa termasuk perantara dan tidak ada pernatara
A. 2 Do'a keada makhluk dan meyakini bahwa makhluk tersebut yang dapat mengabulkannya, bukan Allah lagi.
Belum lagi keyakinan syirik lain, seperti meyakini makhluk itu maha mendengar, ketika seseorang berdoa kepada makhluk yang sudah wafat dan beranggapan orang mati tersebut mendengarnya.
Maka itu syirik kepada sifat Allah ketika beranggapan orang yang telah wafat itu maha mendengar, karena hanya Allah yang maha dengar.
B. Tingkatan Bid'ah
Yaitu dia masih do'a kepada Allah, tapi dia menggunakan nama atau kemuliaan makhluk untuk berdo'a.
-Contoh :
يَا رَبِّ بِالمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا
Ya rabbi bil mushtafa balligh maqashidana
"Wahai Tuhanku, dengan (kedudukan) Mushtafa (Rasulullah) sampaikanlah maksud kami.
Knapa bid'ah?
karena rasul ga pernah ajarkan seperti ini.
Namun perlu diketahui juga bahwa tawasul syirik sudah pasti masuk bid'ah karena nabi tidak mengajarkannya dan melaakukannya.
3⃣.Tidak mengkafirkan orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat mereka
من لم يكفّر المشر كين، أويشك في كفرهم، أو صحح مذهبهم، كفر
◆ Mengandung 3 Rincian
1. Tidak kafir musyrik
2. Ragu ini kafir atau tidak, jika tidak anggap kafir org kafir maka ia kafir
3. Dia amggap benar perbuatan kekafiran mereka
Intinya satu yaitu tidak menganggap kafir orang kafir, maka itu pembatal keislaman kenapa?
◆ Karena 2 sebab
1. Pendustaan terhadap Al-qur'an
Al-qur'an mengatakan Nasrani Kafir
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوٓا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلٰهٍ إِلَّآ إِلٰهٌ وٰحِدٌ ۚ
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa."
(QS. Al-Ma'idah Ayat 73)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوٓا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
"Sungguh, telah kafir orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam."
(QS. Al-Ma'idah Ayat 17)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُولٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
"Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk."
(QS. Al-Bayyinah Ayat 6)
Jika tidak menganggap yahudi dan nasrani kafir maka dia telah mendustakan Al-qur'an
Ulama mengatakan orang yang mendustakan Al-qur'an hanya satu huruf saja kfir, apalagi banyak ayat.
2. Orang yang tidak mengkafirkan orang musyrik berarti dia tidak lagi meyakini kalimat "Laa Ilaaha illallah"
Karena kalimat "Laa Ilaaha illallah" memiliki dua rukun:
-2.1 . Nafyu yang terkandung di dalam laa ilaaha yaitu pengingkaran terhadap orang yang menyembah selain Allah maka dia kafir
-2.2 Itsbat yaitu penetapan keimanan seseorang bahwa yang berhak disembah hanya Allah semata, tidak ada yang lain
Jika tidak mengkafirkan orang yang menyembah selain Allah maka dia telah mendustakan rukun yang pertama, yaitu Nafyu.
Sehingga konsekuensinya adalah tidak mengamalkan kalimat Laa ilaaha Ilallah.
◆ Tentang pendustaan banyak sekali
contoh pada orang-orang yang menyetujui hari lahir yang mereka yakini sebagai hari lahirnya anak Allah maka dia telah mendustakan ayat,
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
"(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan."
(QS. Al-Ikhlas Ayat 3)
Jika seseorang mempercayai ayat itu maka harus marah terhadap orang yang mengatakan Allah punya anak, namun jika dia setuju bahkan gabung untuk merayakannya maka dia telah mendustakan ayat tersebut.
📝 Catatan Penting
Maksud pengkafiran disini yaitu orang kafir yang telah disepakati ulama sebagai orang kafir, atau orang yang melakukan dosa kekafiran yang telah sepakati oleh ulama akan dosa tersebut, dan semua golongan yang menyembah selain Allah.
◆Namun ada juga yang berbeda pendapat dalam menghukumi kekafirannya,
Contoh:
-Orang yang tidak mengkafirkan orang yang tidak shalat karena malas (namun ini masih khilaf)
Namun, jika tidak shalat karena menentang perintah shalat maka ulama sepakat telah kafir.
Walau pendapat yang lebih kuat wallaahu 'alam yaitu orang yang tidak melakukan shalat karena malas maka hukumnya sama, yaitu kafir.
-Contoh lain yang tidak dikafirkan
Yang ulama beda pendapat apabila ada seoseorang yang asalnya muslim lalu melakukan kekafiran apakah sudah pantas disebut kafir karena karena tidak ada udzur baginya atau atau masih ada udzur baginya sehingga ia tidak pantas divonus kafir? seperti halnya udzur bil jahl.
Namun dalam masalah udzur bil jahl ketahuilah bahwa ulamah ahlussunnah sepakat, yaitu orang muslim lakukan kekafiran karena kebodohan maka tidak otomatis dikafirkan kafir karena diberi udzur bil jahl karena kebodohan, maka ulama ahlussunnah itu sepakat ulama berlaku udzur kejahilan bagi pelaku kesyirikan yang tadinya muslim
Contohnya yg sepakat adalah,
1. Asy-Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar-Ruhailly hafidzahullah (Gruru Besar Universitas Islam Madinah)
2. Asy-Syaikh Prof. DR. Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah (Ummul Quro Makkah)
Namun yang menjadi perbedaan pendapat dalam memvonis seseorang, misalnya
Mungkin ada ulama yg mengatakan ketika dia berbuat syirik bagi ulama A dia telah kafir dan tidak ada udzur, Namun bagi ulama B tidak kafir karena masih ada udzur baginya.
Maka perbedaan pendapat ulama dalam sehi penetapan karena ulama meghukumi sesuai dengan keilmuan yang ada pada diri mereka dan melihat kondisi orang tersebut, apakah masih ada udzur bagi orang tersebut atau tidak.
Maka jika ada orang yang belum mengkafirkan maka tidak serta mengkafirkan, karena dalam menetapkan kekafiran bagi orang yang tadinya muslim tidak sembarangan serta merta dalam memvonisnya.
Adapun yang maksud disini yaitu orang yang tidak mengkafirkan orang yang telah jelas kafir menurut ijma ulama seperti Yahudi dan Nasrani, maka ia telah dihukumi kafir.
4⃣. Meyakini adanya petunjuk yang lebih sempurna daripada sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasallam
من اعتقد أن غير هدي النبي صلى الله عليه وسلم أكمل من هديه، أو أن حكم غيره أحسن مة حكمه، كالذي يفضل حكم الطواغيت على حكمه، فهو كافر
Orang yang meyakini bahwa ada petunjuk lain yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau orang meyakini bahwa ada hukum lain yang lebih baik daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum Thaghut daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir.
Kekafiran dalam bab ini ada tiga macam
dan ini titik pembeda ahlussunnah antara khwawarij dan orang sekuler
◆ 1. Khawarij
Apa itu khawarij?
Khawarij meyakini orang yang tidak berhukum selain hukum Allah maka ia telah kafir, dan itu adalah penyimpangan mereka. Orang-orang khawarij telah menyelisihi manhaj salaf, dan ketahuilah bahwa orang yang menyimpang tidaklah sedikit dari mereka mempunyai dalil, akan tetapi mereka tidak memahami dalil sesuai dengan pemahaman para shahabat.
-Contoh
Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْكٰفِرُونَ
"Dan Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir."
(QS. Al-Ma'idah Ayat 44)
Khawarij memahami ayat ini sesuai dzahir, sehingga mereka mengkafirkan pemerintah, bahkan pemerintahan saudisekalipun, mereka menganggap semua pemerintahan yang ada di seluruh dunia kafir.
Para shahabat mahami ayat ini maknanya adalah kufur kecil, walau manhaj shahabat mahami ayat tersebut sesuai dzahir, kecuali ada dalil yang memalingkan dari dzahir.
Secara dzahir ayat hukumnya adalah kufur besar, namun shahabat memahami nya sebagai kufur kecil. Ketahuilah bahwasanya para shahabat lebih memahami ayat tersebut dan mengetahui turunnya ayat tersebut.
Ayat itu turun tidak berbicara tentang orang islam, akan tetapi terhadap yahudi dan nasrani, jika ayat tersebut ditujukan kepada kaum muslimin maka statusnya menjadi kufur asghar.
Jadi berhukum keada selain Allah pada dasarnya adalah kufur asghar (kecil).
Namun perlu diketahui bahwa yang namanya kufur walaupun itu kecil, bukan berarti dosanya kecil, akan tetapi dosa kufur asghar adalah sangat besar akan tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari keislamannya (kafir).
Ahlussunnah mengatakan orang yang hukum selain Allah walau pada dasarnya kufur kecil akan tetapi bisa menjadi kufur akbar apabila dengan tiga kedaan
1. Ketika dia mengatakan atau meyakini sama saja antara hukum Allah dan hukum buatan manusia.
2. Meyakini hukum manusia lebih baik daripada hukum Allah (islam), atau mengatakan hukum islam memang baik akan tetapi di negeri kita lebih cocok menggunakn hukum manusia dan hukum islam itu baik hanya di Arab saja.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"
(QS. Al-Ma'idah Ayat 50)
3. Menghalalkan dari apa yang diharamkan atau mengharamkan dari apa yang dihalalkan.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
اتَّخَذُوٓا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّنْ دُونِ اللَّهِ
"Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah."
(QS. At-Taubah Ayat 31)
Allah menganggap syirik orang yang taat pada ulama yang ikut serta menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Jadi, dia tidak kafir jika sekedar berhukum selain Allah kecuali ada satu dari tiga keyakinan di atas, sehingga menyebabkan menjadi kufur akbar yang mengakibatkan keluar dari islam.
Ini sekaligus bantahan khawarij!
khawarij mengatakan "kalian salafi murji'ah"
Maka jawablah : "karena memang yang dilakukan pemerintah adalah kufur kecil, bukan kufur besar jika semata tidak berhukum selain Allah."
Adapun Murji'ah tidak mengkafirkan orang yang telah jelas kafir, bahkan mereka menganggap dosa kekafiran tidak memberikan pengaruh terhadap keimanannya.
Ciri khawarij adalah menuduh ahlussunnah dengan mengatakan murji'ah ('Irja)
2. Sekuler
Mereka merupakan orang yang menolak hukum Allah dan meyakini hukum manusia lebih baik daripada hukum Allah, sehingga ahlussunnah berada diantara khwawarij dan sekuler.
Orang-orang sekuler sering menuduh ahlusunnh dengan sebutan ekstrik, radikal, dan wahabi.
5⃣. Tidak senang dan membenci hal-hal yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, meskipun ia melaksanakannya, maka ia telah kafir
من أبغض شيئا ممّا جابه الرسول صلى الله عليه وسلم ولو عملبه، كفر
Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمٰلَهُمْ، ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَآ أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمٰلَهُمْ
"Dan orang-orang yang kafir, maka celakalah mereka, dan Allah menghapus segala amalnya, yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur'an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka."
(QS. Muhammad Ayat 8-9)
Ayat ini negaskan membenci 1 sayariat saja maka dapat menyebabkan kekafiran
Namum membenci dibagi 2
1. Sifat tabiat
2. Benci syariat
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسٰىٓ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسٰىٓ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah Ayat 216)
Jadi Allah mengatakan perang itu dibenci karena tabiat manusia, jika tabiat manusia normal maka ia tidak suka ribut.
Maka, manusia membenci perang maka itu adaah hal yang normal (tabiat), namun jika membenci perang di jalan Allah maka bencinya tersebut termasuk kekafiran.
-Contoh lain,
Bangun subuh banyak orang benci dan tidak suka karena udara dingin lebih memilih untuk tidur, akan tetapi jika ada orang yang membenci syariat bangun subuh untuk shalat subuh maka telah kafir.
Kafirnya karena bencinya syariat shalat subuh.
-Contoh lain
Wanita membenci syariat Poligami,
Apa hukum wanita benci poligami?...
Jika dia membenci karena cemburu maka itu tabiat wanita, dan dia tidak disalahkan, tidak berdosa apalagi sampai dikafirkan.
Akan tetapi jika dia benci syariat poligami maka dia kafir walaupun dia mau untuk dipoligami.
Bahkan para istri Nabi shalallahu alaihi wasallam pun pencemburu, dan ia tidak berdosa karena hal itu. Namun perlu diketahui, hal tersebut bisa menjadi dosa apabila cemburunya tersebut dapat menghalangi suaminya untuk beribadah lagi.....
6⃣. Menghina atau Mengolok-olok Agama Islam
من استهزا بشيءمن دين الرسول صلى الله عليه وسلم أوثوابه أعقابه، كفر
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ، لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمٰنِكُمْ ۚ إِنْ نَّعْفُ عَنْ طَآئِفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةًۢ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah, Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok
Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa."
(QS. At-Taubah Ayat 65-66)
Jika bercanda saja bisa menyebabkan seseorang kafir, lantas bagaimana jika serius dalam menghinanya? Maka itu lebih parah lagi, sehingga Allah sendiri yang mengkafirkannya.
Karena iman dibangun di atas Cinta dan pengagungan, jika dia menghina islam maka dia telah merendahkan pengagungan terhadap Allah sehingga menjadi sebab kekafirannya.
7⃣. Melakukan Sihir
السحر ومنه الصرف والعطف، فمن فعله أورضي به، كفر
Yaitu melakukan praktek-praktek sihir, termasuk di dalamnya ash-sharfu dan al-‘athfu.
Ash-sharfu adalah perbuatan sihir yang dimaksudkan dengannya untuk merubah keadaan seseorang dari apa yang dicintainya, seperti memalingkan kecintaan seorang suami terhadap isterinya menjadi kebencian terhadapnya.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتّٰى يَقُولَآ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ
"Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir."
(QS. Al-Baqarah Ayat 102)
Ayat ini berbicara tentang ayat harut dan marut, sehingga siapa yang mau belajar sihir maka dia kafir dan jika dia tidak belajar sihir maka dia lulus ujian.
Orang lakukan sahir kafir karena dua sebab
1. Karena orang yang melakukan sihir maka hakikatnya ia telah menyembah setan, dia katakan dia dibantu setan, padahal kenyataanya dia jadi hamba setan karena mau melakukan apa yang setan perintahkan, seperti menyembelih selain Allah, melakukan ini dan ini.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِينُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa Kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia"
(QS. Al-Baqarah Ayat 102)
2. Karena para tukang sihir dan dukun sok tahu perkara ghaib, sehingga sebut saja mereka orang yang tidak normal, karena mendapatkan berita dari setan, mereka syirik karena mengklaim mengetahui perkara ghaib, sedangkan yang mengetahui perkara ghaib hanya Allah.
Seandanya mengetahui perkara ghaib maka ia telah menyamakan Allah dengan makhluknya dalam hal ghaib (kekhususan Allah)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
قُل لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
"Katakanlah (Muhammad), Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan."
(QS. An-Naml Ayat 65)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.”
(HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Adapun jika bertanya saja dan tidak mempercayai maka shalat tidak diterima selama 40 hari, dan dia msih tetap wajib melakukan shalat.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.”
(HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Namun jika bertanya untuk pemuktian kedustaanya,
بسم الله الرحمن الرحيم
Kisah Syaikh Albani VS Dukun
Syaikh Al Albaani رحمه الله تعالى Berkata Kepada Dukun: “Coba Datangkan Roh Imam Bukhari”
Berikut ini kisahnya:
Ada kabar yang didengar oleh Syaikh Al Albani رحمه الله تعالى bahwa salah seorang tokoh spiritual mampu menghadirkan dan mendatangkan roh. Untuk menghilangkan dan mengingkari kesyirikan, Syaikh pun menemui tokoh tersebut. Gemetarlah sang tokoh karena kedatangan syaikh.
Syaikh mengatakan:
أرجو أن تحضر لي روحا
“Aku harap engkau menghadirkan ruh seseorang untukku.”
Dukun: “Ruh siapa yang kamu inginkan?”
Syaikh menjawab:
أريد روح البخاري
“Aku ingin ruh imam al-Bukhariy”
Dukun: “Apa yang kamu inginkan dari Bukhariy?”
Syaikh menjawab:
أنا عندي أشياء أسألها للبخاري
“Ada hal-hal yang ingin kutanyakan kepada imam Bukhariy”
Dukun menjawab: “Hari ini ruh-ruh terhenti (waktu pemanggilan ruh telah usai). Datanglah kembali hari Senin”.
Syaikh pun mendatanginya hari Senin.
Ternyata tokoh spiritual tersebut kabur dan tempat praktiknya pindah ke tempat lain.
Syaikh paham bahwa sang dukun adalah pendusta ulung. Mereka akan berpura-pura bahwa roh masuk ke tubuh anggota timnya yang dianggap sebagai mediator. Mediator inilah yang akan berbicara seolah-olah roh yang telah dipanggil lah yang sedang berbicara.
Mengetahui bahwa sang mediator tak mungkin memahami ilmu hadits sebagaimana pemahaman imam Al Bukhari maka Syaikh Albaniy pun sengaja meminta agar roh imam Bukhariy dihadirkan guna menanyakan tentang ilmu hadits. Maka tentu sang dukun tak akan mampu bersandiwara dan akhirnya berkilah: “waktu pemanggilan roh telah usai”.
8⃣. Menolong dan membantu orang kafir dalam rangka memerangi kaum muslimin
مظاهرة المشر كين ومعاونتهم على المسلمين
Bersikap wala dan loyal terhadap kafir terutama memerangi muslim
Para ulama merinci kekafiran disini ada dua tingkatan bagi orang yang loyal terhadap orang kafir
◆ 1. Tingkatan kafir
Apabila loyal pada orang kafir, setuju terhadap kekafiran mereka atau membenci atau tidak ingin agama islam di tegakkan, maka ia kafir.
◆ 2. Tingkat dosa besar yaitu dia sikap loyal bukan karena benci islam, bukan setuju terhadap kekafiran mereka, namun karena sesuatu yang sifatnya dunia
Maka itu dosa besar tapi tidak sampai kekafiran.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصٰرٰىٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Ma'idah Ayat 51)
Kenapa rinci sampai 2 tingkatan sedangkan daliln tidak merincinya?
Karena ada hadits dimana shahabat Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu anhu yang membocorkan informasi akan penyerangan kaum muslimin untuk Fathu Makkah, karena beliau melakukan demikian bukan karena benci terhadap islam namun ingin punya jasa terhadap orang kafir agar melindungi keluarganya yang masih tertinggal di mekkah. Sehingga Rasulullah tidak kafirkan Hatib bin Abi Balta'ah, Namun perlu diketahui bahwa jika seorang shahabat melakukan sebuah dosa maka ia akan bertaubat dari dosa tersebut, adapun jika tidak bertaubat maka kesalahannya akan dihapuskan karena kebaikan mereka sangatlah banyak dan ampunan Allah terhadap mereka sangatlah banyak.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَآءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 57)
9⃣. Meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syariat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam*
من اعتقد أن بعض الناس يسعة الخر وج عن شريعة محمد صلى الله عليه وسلم كما وسع الخضر الخروج عن شريعة موسى عليه السلام، فهو كافر
Meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yaitu orang yang mempunyai keyakinan bahwa sebagian manusia diberikan keleluasaan untuk keluar dari sya’riat (ajaran) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Nabi Khidir dibolehkan keluar dari sya’riat Nabi Musa Alaihissallam, maka ia telah kafir.
Masuk ke dalamnya ada dua golongan
◆1. Yaitu sebagian orang sufi, mereka memiliki keyakinan para wali mereka bisa mencapai suatu tingkatan yang bisa keluar dari syariat.
Bahkan mereka menyatakan jika seseorang telah menjadi wali, maka bebas untuk keluar dari syariat karena wali lebih tinggi kedudukannya dibandingkan nabi, waliyadzubillah.
Sehingga mereka bagi agama menjadi tiga yaitu
Syariat, hakekat, dan makrifat.
Sehingga ajaran sufi yaitu adalah ajaran bagi orang yang merendahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam.
Sampai kesesatan mereka ada yang sampai tingkatan wihdatul wujud (menyatu dengan Allah)
Meyakini agama dibagi saja sudah bid'ah termasuk bid'ah apalagi meyakini seseorang bebas keluar dari syariat terlebih telah menyatu dengan Allah.
Dan keyakinan sufi kufur karena mereka mendustakan pengutusan Rasulullah untuk Seluruh ummat.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
قُلْ يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِى لَهُۥ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۖ فَئَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِىِّ الْأُمِّىِّ الَّذِى يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمٰتِهِۦ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Katakanlah (Muhammad), Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk."
(QS. Al-A'raf Ayat 158)
Sehingga jika mereka bebas keluar syariat berarti dusta terhadap ayat.
◆2. Golongan liberal (Islam Nusantara)
Mereka mengatakan sebagian ajaran islam tidak cocok di Nusantara, bahkan mereka menganggap ajara di nusantara warisan nenek moyang mereka yang sesat dianggap sebagai ajaran islam padahal ajaran tersebut bertentangan dengan islam.
Mereka juga menolak ajaran islam karena tidak cocok di Nusantara.
Syubhat!!!
Sama saja dengan nabi Khidir alaihissalam, nabi Khidir alaihissalam tidak mengikuti syariat nabi Musa alaihissalam.
Ternyata orang sesat juga punya dalil, sehingga memberikan pelajaran bagi kita tidak semua bahwa orang yanh memiliki dalil maka bukan jaminan dia di atas kebenaran, memang hafalan mereka bagus namun patokan kebenaran kebenaran, jaminan kebenaran adalah membawakan sebuah dalil sesuai dengan pemahaman para shabaat dan yang mengikuti mereka.
Dalil mereka berlepas syariat dengan kisah nabi Khidir alaihissalam dimana Khidir alaihissalam mereka anggap sebagai wali dan Musa alaihissalam adalah nabi, sehingga Khidir alaihissalam lebih tinggi derajatnya dari Musa alaihissalam sehingga boleh keluar dari syari'at
Maka Jawaban Syubhatnya adalah
◆1. Nabi Khidir alaihissalam jelas-jelas melakukan perbuatan beliau karena mendapatkan wahyu dari Allah sehingga ia mengatakan,
ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى
"..Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri.."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 82)
Khidir dapat Wahyu dari Allah sedangkan mereka dari setan.
◆2. Jika kita meneliti kisahnya kita akan mendapatkan bahwa Khidir alaihissalam tidak menyelisihi syariat Musa alaihissalam karena Musa alaihissalam tidak mengetahui alasan beliau membunuh anak kecil, melubangi kapal, namun setelah Khidir alaihissalam menjelaskan maka nabi Musa alaihissalam tidak lagi menyalahkan, sehingga Khaidir tidak menyelisihi syariat.
◆3. Andai benar nabi Khidir alaihissalam menentang syariat Musa alaihissalam maka dizaman itu memang boleh karena para nabi dan rasul diutus untuk kaumnya saja dan nabi Khidir alaihissalam bukan termasuk kaum nabi Musa alaihissalam, sehingga Khidir alaihissalam merupakan seorang nabi yang diutus untuk kaum yang lain.
Adapun syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam diutus untuk seluruh umat manusia.
Dari Shahabat Jabir bin Abdillah berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
"Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya."
(HR. Bukhari, no: 335)
Sehingga tidak bisa berdalil dengan ummat terdahulu, namun yang tidak pernah berubah adalah mentauhidkan Allah dan larangan berbuat syirik dari nabi Adam alaihissalam sampai Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Adapun dari segi hukum syariat maka terdapat perbedaan.
◆4. Nabi Khidir alaihissalam bukanlah wali namun nabi, karena ia diberikan wahyu oleh Allah sehingga mengetahui perkara ghaib, ia mengetahui anak yang kelak akan menyebabkan orang tua nya menjadi kufur. Karena hakikat yang mengetahui perkara ghaib nabi dan rasul.
Allah subhanahu wata'ala berfirman,
عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهِۦٓ أَحَدًا، إِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُولٍ فَإِنَّهُۥ يَسْلُكُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ رَصَدًا
"Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya."
(QS. Al-Jinn Ayat 27)
🔟. Berpaling dari agama Allah, ia tidak mempelajarinya dan beramal dengannya
الإعراض عن دين الله تعالى، لا يتعلمه، ولا يعمل به
Berpaling dari agama Allah Ta’ala, ia tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya.
Maksud berpaling dari agama allah menjadi dua makna
◆1. Berpaling secara menyeluruh
sama sekali tidak mau belajar, maka ia kafir.
◆2. Dia tidak mencintai islam walau dia tidak memusuhinya, sehingga dia memilih netral maka dia kufur. Karena maksud netral itu tidak membenci dan tidak mencintai, walau dia telah masuk islam, dan dia tidak mencintai sehingga tidak belajar agama, sehingga tidak mungkin seseorang melakukan sebuah amalan tetapi tidak mengetahui ilmunya.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِئَايٰتِ رَبِّهِۦ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَآ ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa."
(QS. As-Sajdah Ayat 22)
Penutup
Dan tidak ada bedanya dalam pembatal keislaman ini antara orang yang main-main, sungguh-sungguh dan orang yang takut, sehingga tidak boleh beralasan karenanya.
1. Kecuali orang yang dipaksa, maksud dipaksa adalah ketika dia diperintahkan melakukan kekafiran dengan ancaman bahaya besar seperti dibunuh. Namun, jika hanya sebatas ancaman seperti dipecat dalam pekerjaan maka hal ini bukan termasuk ke dalam darurat yang dipaksa.
2. Syarat kedua yaitu hatinya tetap beriman, jika hatinya jadi kafir maka dia tetap kafir walau melakukan sesuatu tersebut dipaksa, kenapa?
Karena hati tidak mungkin bisa dipaksa.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنۢ بَعْدِ إِيمٰنِهِۦٓ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُۥ مُطْمَئِنٌّۢ بِالْإِيمٰنِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar."
(QS. An-Nahl Ayat 106)
Semua pembatal keislaman ini merupakan yang paling besar dan paling banyak terjadi, sehingga seorang muslim hendaknya berhati-hati terhadap hal-hal yang menyebabkan kekufuran.
Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkannya. Semoga Allah selalu memberi kita ilmu yang bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Walhamdulillah.
┄┅═══•❃📖❃•═══┅┄
فَلْيُبَلِّغْ الشَاهِدُ الغَائِبَ
“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
(HR. al-Bukhari dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu)
Semoga tulisan singkat ini bisa menambah pengetahuan hal-hal yang dapat membatalkan keislaman dan memotivasi kita untuk terus menuntut ilmu karena ilmu agama ini begitu luas.
Semoga Allaah memberi petunjuk kepada kita semua untuk selalu ta'at kepadanya.
Wallaahu 'alam
Semoga Bermanfaat
بارك اللّه فيكم
Oleh : Doni Setio Pambudi (Abu Ubaidillah).
Karawang Mengaji Tauhid
بسم اللّه الرّحمٰن الرّحيم
📒Tema : 10 Pembatal Keislaman
🎓Pemateri : Ustadz Sofyan Cholid bin Idham Ruray, Lc hafizhahullaah
🕌 Tempat : Masjid Jami' Aliyah Karawang
📅 Tanggal : Ahad, 24 Jumadil 'Ula1441 H/ 19 Januari 2020 M
Hendaknya seseorang mempelajari permasalahan ini, karena ini merupakan hal yang sangat penting
Semoga Allah subhanahu wata'ala senantiasa memberikan pemahaman ilmu kepada kita semua, Aamiin.
Muqoddimah
Alhamdulillaah hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fiih kamaa yuhibbu rabbuna wa yardha, wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Menjaga tauhid, keimanan, dan keislaman merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan kita. Seseorang selamat dari adzab Allah apabila memiliki keimanan yanh benar dan serta memiliki keimanan yang sah tidak dicampuri dengan kesyirikan sedikitpun.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوٓا إِيمٰنَهُمْ بِظُلْمٍ أُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُونَ
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk."
(QS. Al-An'am Ayat 82)
Nikmat aman dalam ayat di atas maksudnya adalah selamat dari adzab Allah di dunia dan akhirat, ayat ini juga menjelaskan kepada kita jalan keselamatan. Hidayah diperoleh dengan cara menjaga keimanan dan keislaman.
Sebaliknya Allah ingatkan kepada yang kafir kepada Allah dan orang yang batal imannya maka mereka termasuk penghuni neraka dan kekal di dalamnya dan mereka seburuk-buruk makhluk.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُولٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
"Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk."
(QS. Al-Bayyinah Ayat 6)
Menjaga Iman dan Islam suatu yang penting, jika kita berjumpa dengan Allah dengan tidak membawa dosa ini maka kita selamat dan jika membawa dosa ini maka kita akan celaka.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi rahimahullah mengatakan,
اعلم أن نواقض الإسلام عشرة
Ketahuilah bahwasannya pembatal keislaman itu ada sepuluh.
Namun sepuluh yang dimaksud disini bukan pembatasan, karena pembatasan pembatal keislaman sangat banyak
Beliau mengingatkan sepuluh disini dengan alasan;
1. Sepuluh disini merupakan yang paling banyak terjadi
2. Sepuluh disini ini yang telah disepakati oleh ulama dan tidak ada khilaf perbedaan pendapat, dan dosa ini jika dilakukan oleh seseorang maka membatalkan keislamannya.
1⃣. Berbuat Syirik di dalam Ibadah kepada Allaah
الشرك في عبادةالله تعالى
Karena ibadah hakikatnya khusus hanya milik Allah, Makna dari syirik yaitu menyamakan Allah dengan Makhluk dalam perkara yang khusus bagi Allah.
Oleh sebabnya orang yang beribadah kepada selain Allah atau membuat tandingan ibadah pada selain Allah maka dia telah berbuat syirik, walau dia hanya sebuah berkeyakinan ada sesuatu yang boleh disembah selain Allah.
Kenapa dosa syirik sangat dimurkai oleh Allah?
Karena dosa syirik merupakan penghinaat terhadap Allah, ketika Allah yang merajai, menguasai, yang maha tinggi disamakan dengan makhluk dimana makhluk itu lemah, hina, kotor dan penuh dosa baik secara lahir maupun batin, sehingga jika disamakan maka pelecehan yang sangat besar terhadap Allah subhanahu wata'ala.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…”
(QS. An-Nisa’ Ayat 48)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًۢا بَعِيدًا
"Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali."
(QS. An-Nisa' Ayat 116)
Dalam kedua ayat tersebut memiliki lafadz yang sama, hanya saja berbeda pada lafadz yang terakhirnya.
Ayat ini merupakan konsekuensi bagi orang yang berbuat syirik lalu mati dalam keadaan belum bertaubat.
Namun jika dia bertaubat dari dosa syirik maka Allah ampuni seluruh dosanya.
Bahkan orang yang tadinya musyrik, lalu masuk islam maka sebuah kebaikan yang dilakukannya selama ia musyrik menjadi sebuah pahala kebaikan.
◆ Contoh pada kisah
Shahabat Amr bin Ash radhiyallahu anhu
قُلْتُ: أَنْ يُغْفَرَلِى. قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ اْلإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهَا؟ وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ ؟
Maka aku berkata, ‘Agar aku diampuni.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah engkau belum tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu menghapus dosa-dosa sebelumnya?’”
(HR. Muslim: Kitabul Iman no. 121)
Sehingga Ulama mengatakan tauhid adalah sebab terbesar seseorang mendapat ampunan Allah.
◆ Contoh jika ada orang berbuat dosa khamr dan riba, lalu dia taubat dari khamr dan dosa ribanya ia belum sempat bertaubat maka Allah ampuni dosa khamrnya dan dosa riba belum diampuni. Namun, jika taubat dari syirik maka akan diampuni seluruh dosanya.
Di dalam hadits qudsi dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.”
(HR. Tirmidzi no. 3540. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Abu Thohir)
Makna disini yaitu tidak melakukan dosa syirik kecil maupun syirik besar. Orang yang datang berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa sepenuh bumi saja masih ada harapan diampuni dengan syarat tidak berbuat syirik.
Lalu Sabda Rasul keada Hakim bin Hizam,
عن حَكِيم بن حِزَامٍ رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ:يَا رَسُولَ اللهِ! أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ: مِنْ صِلَةٍ وَعَتَاقَةٍ وَصَدَقَةٍ، هَلْ لِي فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ”.
Dari Hakim bin Hizam bahwasanya ia berkata: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang perkara-perkara kebaikan yang dahulu di masa jahiliyah sebelum saya masuk Islam aku melakukannya: berupa menyambung tali silaturahim, memerdekakan budak, bersedekah, Apakah aku mendapatkan pahala hai Rasulullah?”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau masuk Islam diatas kebaikan kebaikan yang telah kamu lakukan dahulu”
(HR. Al-Bukhari)
Namun jika seseorang melakukan kesyiirikan maka amalan tersebut yang akan terhapuskan,
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخٰسِرِينَ
"Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi."
(QS. Az-Zumar Ayat 65)
Ini merupakan bahaya dosa syirik yang dapat menghapus amalan seseorang sehingga tidak mendapatkan amlunan Allah jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat.
Namun, jika seseorang tidak bertaubat dari dosa selain syirik maka ada kemungkinan diampuni, karena ada ada sebab lain yang dapat mengampuni dosa tersebut, yaitu sebab kebaikan yang ia lakukan di dunia,
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِينَ
"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)."
(QS. Hud 11: Ayat 114)
Atau dalam kisah yang mahsyur,
Dari shahabat Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا
“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.”
(HR. Muslim no. 2245).
Begitu juga musibah yang menimpa seseorang dapat menghapus dosa, namun perlu diingat bahwa dosa yang bisa dihapuskan dengan amal shaleh hanya dosa selain syirik, karena dosa syirik hanya bisa dihapuskan dengan taubat.
Selama seseorang masih muslim, seseorang boleh untuk medo'akannya ketika mati, jika itu orang tua kita maka lebih wajib lagi bagi kita untuk mendoakannya.
Adapun jika orang itu yang berbuat syirik sehingga menyebabkan keluar dari islam maka kita dilarang untuk mendo'akannya atau memohonkan ampun kepadanya.
Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوٓا أُولِى قُرْبٰى مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحٰبُ الْجَحِيمِ
"Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya) setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni Neraka Jahanam."
(QS. At-Taubah Ayat 113)
Ayat di atas ashbabun nuzul nya ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendoakan pamannya Abu Thalib yang mati dalam keadaan kafir.
Orang yang berbuat dosa besar dan selama bukan syirik, seandainya Allah tidak mengampuni maka Allah masukkan ia ke dalam neraka namun tidak kekal di dalamnya.
Adapun orang yang berbuat syirik pasti masuk neraka.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوٓا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يٰبَنِىٓ إِسْرٰٓءِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظّٰلِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu."
(QS. Al-Maidah Ayat 72)
Contoh perbuatan syirik dalam ibadah adalah
1. Menyembelih untuk selain Allah
Menyembelih untuk pendekatan dan pengagungan terhadap selain Allah, seperti orang yang menyembah kepada jin atau menyembah kepada kubur.
Semua ibadah jika dipersembahkan kepada selain Allah maka itu termasuk syirik dalam uluhiyyah (peribadahan), dan itu kufur.
◆ Syaikh menyebutkan contoh mengembah jin dan kubur karena ini yang paling banyak terjadi.
Karena setiap orang hampir tidak ada sekutukan Shalat, Haji dalam ibadah ini karena mereka paham bahwa melakukan demikian itu tidak boleh.
Namun faktanya ada orang yang demikian, ada orang shalat kepada selain Allah,
contoh:
Orang yang datang ke suatu masjid karena dia meyakini di masjid tersebut ada kuburan keramat orang shaleh, sehingga dia shalat di masjid tersebut demi mengagungkan penghuni kubur tersebut namun karena keyakinan tersebut ada hakikatnya ia telah menyembah penghuni kubur, karena hakitkat dari ibadah adalah kecintaan dan pengagungan.
Kenapa hal ini banyak terjadi?
Karena diantara tipu daya setan terhadap manusia adalah membuat suatu dosa dengan menamakan dan menggambarkan yang buruk dengan rupa yang Bagus dan Indah.
◆ Contoh sangat banyak:
-Riba disebut Bunga
-Racun disebut selera pemberani
-Dosa syirik menyembah selain allah dinamakan sedekah bumi, sedekah laut.
Sehingga banyak orang yang terjerumus di dalam hal ini, mereka menakut-nakuti supaya banyak orang mau menyembelih untuk mereka, bahkan orang-orang menyebut hal tersebut dengan Kearifan lokal, bahkan saking bodohnya mereka menjadikna itu sebagai wisata budaya. Naudzubillah
Sebaliknya, yang baik-baik, yaitu ajaran islam yang sebenarnya digambar oleh setan disebut keburukan.
Sehingga muncul perkataan "yang suka larang-larang syirik adalah Wahabi, Radikal." dan selebihnya, sehingga tuduhan mereka terhadap orang melarang syirik hanya sepanjang lidahnya saja.
Ketahuilah bahwa menyembelih merupakan ibadah yang sangat agung
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعٰلَمِينَ
"Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,"
(QS. Al-An'am Ayat 162)
Dari Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
لعن الله من ذبح لغير الله
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.
(HR. Muslim no 1978)
2. Termasuk ibadah syirik adalah Tawakkal
Kita hanya boleh menggantungkan hati hanya kepada Allah saja, apabila kita gantung/menyandarkan hati keada selain Allah maka itu kesyirikan.
Oleh sebab itu mempercayai jimat adalah syirik, kenapa syirik? Karena menggantungkan hati kita kepadanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.”
(HR. Abu Dawud, shahih)
Begitu juga jika hati kita bersandar kepada hari-hari yang kita anggap kebaikan atau anggap sial, karena jika hati seseorang menggantung kan kepada hari tersebut maka telah berbuat syirik.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ، فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa dihalangi oleh perasaan takut sial untuk melakukan hajatnya maka ia telah menyekutukan Allah."
(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah:1065, Shahihul Jaami’: 6264)
2⃣.Orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah peramtara, yaitu dengan berdoa, memohon syafa'at, serta bertawakkal kepada mereka
من جعل بينه وبين الله وسائط يد عو هم ويسألهم الشفاعة ويتو كل عليهم، كفر إجماعا
Orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah, yaitu dengan berdo’a, memohon syafa’at, serta bertawakkal kepada mereka.
Perbuatan-perbuatan tersebut termasuk amalan kekufuran menurut ijma’ (kesepakatan para ulama).
Yaitu orang yang berdo'a kepada selain Allah yang mana ibadah tersebut (do'a) hanya mampu dikabulkan oleh Allah maka itu syirik, karena doa itu merupakan bagian dari ibadah.
Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ
”Doa adalah ibadah.”
(HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Dan Rabbmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."
(QS. Ghafir Ayat 60)
Ayat ini merupakan dalil bahwa doa merupakan ibadah, dan meneegaskan bahwa orang sombong tidak mau do'a keada Allah sehingga dia masuk neraka dalam keadaan hina.
Sehingga jika berdoa kepada makhluk maka dia telah menyekutukan ibadah kepada selain Allah.
Syubhat!!!
Mereka sebut ini katakan Tawassul,
Maka ini bukan tawasul syar'i, tapi yang terlarang
Tawassul ada 2
1. Tawassul yang syariat
2. Tawassul yang dilarang
1. Yng disyariatkan yaitu dengan dalil ada tiga bentuk
A. Tawasul dengan Nama dan sifat Allah
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَآءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوهُ بِهَا
"Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu"
(QS. Al-A'raf Ayat 180)
Juga Rasulullah mencontohnya,
Rasulullah menyeebut dua nama yaitu hayyu dan qoyyum dan satu sifat yaitu rahmat
Beliau senantiasa berdo'a
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan
-artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.”
(HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 46, An-Nasa’i)
B. Tawassul dengan amal shaleh
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"(Yaitu) orang-orang yang berdoa, Ya Rabb kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka."
(QS. Ali 'Imran Ayat 16)
Maksud ayat ini yaitu kami sudah beriman (amalan) ini bagian dari ibadah, lalu ia meminta diampuni dosa dan dilindungi dari adzab neraka.
C. Tawassul dengan doa orang shaleh
Tawassul dengan Amal shaleh dengan tiga syarat ;
C.1 Masih hidup
Jika berdoa kepada orang yang sudah mati maka telah musyrik.
C.2 Hadir, maknanya yaitu bisa komunikasi secara wajar,
Tidak disamakan komunikasi dengan dia seperti kita berdoa kepada Allah.
Misal kita ada disini dan orang lain ada disana yang begitu jauh, sehingga beranggapan orang yang jauh tersebut seakan-akan dia maha mendengar seperti Allah yg maha mendengar. Sehingga orang tersebut tidak memiliki kemampuan tersebut.
C.3 Orang Shaleh beneran
Karena tidak sedikit orang menganggap orang shaleh namun kenyataanya ia dukun.
Minta doa kepada dukun berarti berbuat syirik, percaya saja sudah syirik, karena dukun berdoa pada syaitan bukan kepada Allah.
Note:
Shahabat minta didoakan kepada Rasulullah itu ketika beliau msih hidup, setelah Rasulullah wafat tidak ada yang meminta di do'akan kepada Rasulullah sebagai perantara.
2. Tawasul yang dilarang
Tawassul yang di larang ada dua tingkatan;
A. Tingkatan syirik
Tingkatan syirik ini bentuknya dua;
A.1 Orang yang menjadikan makhluk sebagai perantara kepada Allah dengan maksud agar doanya di teruskan kepada Allah, maka ini syirik, karena doa termasuk perantara dan tidak ada pernatara
A. 2 Do'a keada makhluk dan meyakini bahwa makhluk tersebut yang dapat mengabulkannya, bukan Allah lagi.
Belum lagi keyakinan syirik lain, seperti meyakini makhluk itu maha mendengar, ketika seseorang berdoa kepada makhluk yang sudah wafat dan beranggapan orang mati tersebut mendengarnya.
Maka itu syirik kepada sifat Allah ketika beranggapan orang yang telah wafat itu maha mendengar, karena hanya Allah yang maha dengar.
B. Tingkatan Bid'ah
Yaitu dia masih do'a kepada Allah, tapi dia menggunakan nama atau kemuliaan makhluk untuk berdo'a.
-Contoh :
يَا رَبِّ بِالمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا
Ya rabbi bil mushtafa balligh maqashidana
"Wahai Tuhanku, dengan (kedudukan) Mushtafa (Rasulullah) sampaikanlah maksud kami.
Knapa bid'ah?
karena rasul ga pernah ajarkan seperti ini.
Namun perlu diketahui juga bahwa tawasul syirik sudah pasti masuk bid'ah karena nabi tidak mengajarkannya dan melaakukannya.
3⃣.Tidak mengkafirkan orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat mereka
من لم يكفّر المشر كين، أويشك في كفرهم، أو صحح مذهبهم، كفر
◆ Mengandung 3 Rincian
1. Tidak kafir musyrik
2. Ragu ini kafir atau tidak, jika tidak anggap kafir org kafir maka ia kafir
3. Dia amggap benar perbuatan kekafiran mereka
Intinya satu yaitu tidak menganggap kafir orang kafir, maka itu pembatal keislaman kenapa?
◆ Karena 2 sebab
1. Pendustaan terhadap Al-qur'an
Al-qur'an mengatakan Nasrani Kafir
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوٓا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلٰهٍ إِلَّآ إِلٰهٌ وٰحِدٌ ۚ
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa."
(QS. Al-Ma'idah Ayat 73)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوٓا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
"Sungguh, telah kafir orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam."
(QS. Al-Ma'idah Ayat 17)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُولٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
"Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk."
(QS. Al-Bayyinah Ayat 6)
Jika tidak menganggap yahudi dan nasrani kafir maka dia telah mendustakan Al-qur'an
Ulama mengatakan orang yang mendustakan Al-qur'an hanya satu huruf saja kfir, apalagi banyak ayat.
2. Orang yang tidak mengkafirkan orang musyrik berarti dia tidak lagi meyakini kalimat "Laa Ilaaha illallah"
Karena kalimat "Laa Ilaaha illallah" memiliki dua rukun:
-2.1 . Nafyu yang terkandung di dalam laa ilaaha yaitu pengingkaran terhadap orang yang menyembah selain Allah maka dia kafir
-2.2 Itsbat yaitu penetapan keimanan seseorang bahwa yang berhak disembah hanya Allah semata, tidak ada yang lain
Jika tidak mengkafirkan orang yang menyembah selain Allah maka dia telah mendustakan rukun yang pertama, yaitu Nafyu.
Sehingga konsekuensinya adalah tidak mengamalkan kalimat Laa ilaaha Ilallah.
◆ Tentang pendustaan banyak sekali
contoh pada orang-orang yang menyetujui hari lahir yang mereka yakini sebagai hari lahirnya anak Allah maka dia telah mendustakan ayat,
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
"(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan."
(QS. Al-Ikhlas Ayat 3)
Jika seseorang mempercayai ayat itu maka harus marah terhadap orang yang mengatakan Allah punya anak, namun jika dia setuju bahkan gabung untuk merayakannya maka dia telah mendustakan ayat tersebut.
📝 Catatan Penting
Maksud pengkafiran disini yaitu orang kafir yang telah disepakati ulama sebagai orang kafir, atau orang yang melakukan dosa kekafiran yang telah sepakati oleh ulama akan dosa tersebut, dan semua golongan yang menyembah selain Allah.
◆Namun ada juga yang berbeda pendapat dalam menghukumi kekafirannya,
Contoh:
-Orang yang tidak mengkafirkan orang yang tidak shalat karena malas (namun ini masih khilaf)
Namun, jika tidak shalat karena menentang perintah shalat maka ulama sepakat telah kafir.
Walau pendapat yang lebih kuat wallaahu 'alam yaitu orang yang tidak melakukan shalat karena malas maka hukumnya sama, yaitu kafir.
-Contoh lain yang tidak dikafirkan
Yang ulama beda pendapat apabila ada seoseorang yang asalnya muslim lalu melakukan kekafiran apakah sudah pantas disebut kafir karena karena tidak ada udzur baginya atau atau masih ada udzur baginya sehingga ia tidak pantas divonus kafir? seperti halnya udzur bil jahl.
Namun dalam masalah udzur bil jahl ketahuilah bahwa ulamah ahlussunnah sepakat, yaitu orang muslim lakukan kekafiran karena kebodohan maka tidak otomatis dikafirkan kafir karena diberi udzur bil jahl karena kebodohan, maka ulama ahlussunnah itu sepakat ulama berlaku udzur kejahilan bagi pelaku kesyirikan yang tadinya muslim
Contohnya yg sepakat adalah,
1. Asy-Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar-Ruhailly hafidzahullah (Gruru Besar Universitas Islam Madinah)
2. Asy-Syaikh Prof. DR. Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah (Ummul Quro Makkah)
Namun yang menjadi perbedaan pendapat dalam memvonis seseorang, misalnya
Mungkin ada ulama yg mengatakan ketika dia berbuat syirik bagi ulama A dia telah kafir dan tidak ada udzur, Namun bagi ulama B tidak kafir karena masih ada udzur baginya.
Maka perbedaan pendapat ulama dalam sehi penetapan karena ulama meghukumi sesuai dengan keilmuan yang ada pada diri mereka dan melihat kondisi orang tersebut, apakah masih ada udzur bagi orang tersebut atau tidak.
Maka jika ada orang yang belum mengkafirkan maka tidak serta mengkafirkan, karena dalam menetapkan kekafiran bagi orang yang tadinya muslim tidak sembarangan serta merta dalam memvonisnya.
Adapun yang maksud disini yaitu orang yang tidak mengkafirkan orang yang telah jelas kafir menurut ijma ulama seperti Yahudi dan Nasrani, maka ia telah dihukumi kafir.
4⃣. Meyakini adanya petunjuk yang lebih sempurna daripada sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasallam
من اعتقد أن غير هدي النبي صلى الله عليه وسلم أكمل من هديه، أو أن حكم غيره أحسن مة حكمه، كالذي يفضل حكم الطواغيت على حكمه، فهو كافر
Orang yang meyakini bahwa ada petunjuk lain yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau orang meyakini bahwa ada hukum lain yang lebih baik daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum Thaghut daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir.
Kekafiran dalam bab ini ada tiga macam
dan ini titik pembeda ahlussunnah antara khwawarij dan orang sekuler
◆ 1. Khawarij
Apa itu khawarij?
Khawarij meyakini orang yang tidak berhukum selain hukum Allah maka ia telah kafir, dan itu adalah penyimpangan mereka. Orang-orang khawarij telah menyelisihi manhaj salaf, dan ketahuilah bahwa orang yang menyimpang tidaklah sedikit dari mereka mempunyai dalil, akan tetapi mereka tidak memahami dalil sesuai dengan pemahaman para shahabat.
-Contoh
Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْكٰفِرُونَ
"Dan Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir."
(QS. Al-Ma'idah Ayat 44)
Khawarij memahami ayat ini sesuai dzahir, sehingga mereka mengkafirkan pemerintah, bahkan pemerintahan saudisekalipun, mereka menganggap semua pemerintahan yang ada di seluruh dunia kafir.
Para shahabat mahami ayat ini maknanya adalah kufur kecil, walau manhaj shahabat mahami ayat tersebut sesuai dzahir, kecuali ada dalil yang memalingkan dari dzahir.
Secara dzahir ayat hukumnya adalah kufur besar, namun shahabat memahami nya sebagai kufur kecil. Ketahuilah bahwasanya para shahabat lebih memahami ayat tersebut dan mengetahui turunnya ayat tersebut.
Ayat itu turun tidak berbicara tentang orang islam, akan tetapi terhadap yahudi dan nasrani, jika ayat tersebut ditujukan kepada kaum muslimin maka statusnya menjadi kufur asghar.
Jadi berhukum keada selain Allah pada dasarnya adalah kufur asghar (kecil).
Namun perlu diketahui bahwa yang namanya kufur walaupun itu kecil, bukan berarti dosanya kecil, akan tetapi dosa kufur asghar adalah sangat besar akan tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari keislamannya (kafir).
Ahlussunnah mengatakan orang yang hukum selain Allah walau pada dasarnya kufur kecil akan tetapi bisa menjadi kufur akbar apabila dengan tiga kedaan
1. Ketika dia mengatakan atau meyakini sama saja antara hukum Allah dan hukum buatan manusia.
2. Meyakini hukum manusia lebih baik daripada hukum Allah (islam), atau mengatakan hukum islam memang baik akan tetapi di negeri kita lebih cocok menggunakn hukum manusia dan hukum islam itu baik hanya di Arab saja.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"
(QS. Al-Ma'idah Ayat 50)
3. Menghalalkan dari apa yang diharamkan atau mengharamkan dari apa yang dihalalkan.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
اتَّخَذُوٓا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّنْ دُونِ اللَّهِ
"Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah."
(QS. At-Taubah Ayat 31)
Allah menganggap syirik orang yang taat pada ulama yang ikut serta menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Jadi, dia tidak kafir jika sekedar berhukum selain Allah kecuali ada satu dari tiga keyakinan di atas, sehingga menyebabkan menjadi kufur akbar yang mengakibatkan keluar dari islam.
Ini sekaligus bantahan khawarij!
khawarij mengatakan "kalian salafi murji'ah"
Maka jawablah : "karena memang yang dilakukan pemerintah adalah kufur kecil, bukan kufur besar jika semata tidak berhukum selain Allah."
Adapun Murji'ah tidak mengkafirkan orang yang telah jelas kafir, bahkan mereka menganggap dosa kekafiran tidak memberikan pengaruh terhadap keimanannya.
Ciri khawarij adalah menuduh ahlussunnah dengan mengatakan murji'ah ('Irja)
2. Sekuler
Mereka merupakan orang yang menolak hukum Allah dan meyakini hukum manusia lebih baik daripada hukum Allah, sehingga ahlussunnah berada diantara khwawarij dan sekuler.
Orang-orang sekuler sering menuduh ahlusunnh dengan sebutan ekstrik, radikal, dan wahabi.
5⃣. Tidak senang dan membenci hal-hal yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, meskipun ia melaksanakannya, maka ia telah kafir
من أبغض شيئا ممّا جابه الرسول صلى الله عليه وسلم ولو عملبه، كفر
Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمٰلَهُمْ، ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَآ أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمٰلَهُمْ
"Dan orang-orang yang kafir, maka celakalah mereka, dan Allah menghapus segala amalnya, yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur'an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka."
(QS. Muhammad Ayat 8-9)
Ayat ini negaskan membenci 1 sayariat saja maka dapat menyebabkan kekafiran
Namum membenci dibagi 2
1. Sifat tabiat
2. Benci syariat
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسٰىٓ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسٰىٓ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah Ayat 216)
Jadi Allah mengatakan perang itu dibenci karena tabiat manusia, jika tabiat manusia normal maka ia tidak suka ribut.
Maka, manusia membenci perang maka itu adaah hal yang normal (tabiat), namun jika membenci perang di jalan Allah maka bencinya tersebut termasuk kekafiran.
-Contoh lain,
Bangun subuh banyak orang benci dan tidak suka karena udara dingin lebih memilih untuk tidur, akan tetapi jika ada orang yang membenci syariat bangun subuh untuk shalat subuh maka telah kafir.
Kafirnya karena bencinya syariat shalat subuh.
-Contoh lain
Wanita membenci syariat Poligami,
Apa hukum wanita benci poligami?...
Jika dia membenci karena cemburu maka itu tabiat wanita, dan dia tidak disalahkan, tidak berdosa apalagi sampai dikafirkan.
Akan tetapi jika dia benci syariat poligami maka dia kafir walaupun dia mau untuk dipoligami.
Bahkan para istri Nabi shalallahu alaihi wasallam pun pencemburu, dan ia tidak berdosa karena hal itu. Namun perlu diketahui, hal tersebut bisa menjadi dosa apabila cemburunya tersebut dapat menghalangi suaminya untuk beribadah lagi.....
6⃣. Menghina atau Mengolok-olok Agama Islam
من استهزا بشيءمن دين الرسول صلى الله عليه وسلم أوثوابه أعقابه، كفر
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ، لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمٰنِكُمْ ۚ إِنْ نَّعْفُ عَنْ طَآئِفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةًۢ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah, Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok
Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa."
(QS. At-Taubah Ayat 65-66)
Jika bercanda saja bisa menyebabkan seseorang kafir, lantas bagaimana jika serius dalam menghinanya? Maka itu lebih parah lagi, sehingga Allah sendiri yang mengkafirkannya.
Karena iman dibangun di atas Cinta dan pengagungan, jika dia menghina islam maka dia telah merendahkan pengagungan terhadap Allah sehingga menjadi sebab kekafirannya.
7⃣. Melakukan Sihir
السحر ومنه الصرف والعطف، فمن فعله أورضي به، كفر
Yaitu melakukan praktek-praktek sihir, termasuk di dalamnya ash-sharfu dan al-‘athfu.
Ash-sharfu adalah perbuatan sihir yang dimaksudkan dengannya untuk merubah keadaan seseorang dari apa yang dicintainya, seperti memalingkan kecintaan seorang suami terhadap isterinya menjadi kebencian terhadapnya.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتّٰى يَقُولَآ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ
"Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir."
(QS. Al-Baqarah Ayat 102)
Ayat ini berbicara tentang ayat harut dan marut, sehingga siapa yang mau belajar sihir maka dia kafir dan jika dia tidak belajar sihir maka dia lulus ujian.
Orang lakukan sahir kafir karena dua sebab
1. Karena orang yang melakukan sihir maka hakikatnya ia telah menyembah setan, dia katakan dia dibantu setan, padahal kenyataanya dia jadi hamba setan karena mau melakukan apa yang setan perintahkan, seperti menyembelih selain Allah, melakukan ini dan ini.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِينُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa Kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia"
(QS. Al-Baqarah Ayat 102)
2. Karena para tukang sihir dan dukun sok tahu perkara ghaib, sehingga sebut saja mereka orang yang tidak normal, karena mendapatkan berita dari setan, mereka syirik karena mengklaim mengetahui perkara ghaib, sedangkan yang mengetahui perkara ghaib hanya Allah.
Seandanya mengetahui perkara ghaib maka ia telah menyamakan Allah dengan makhluknya dalam hal ghaib (kekhususan Allah)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
قُل لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
"Katakanlah (Muhammad), Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan."
(QS. An-Naml Ayat 65)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.”
(HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Adapun jika bertanya saja dan tidak mempercayai maka shalat tidak diterima selama 40 hari, dan dia msih tetap wajib melakukan shalat.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.”
(HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Namun jika bertanya untuk pemuktian kedustaanya,
بسم الله الرحمن الرحيم
Kisah Syaikh Albani VS Dukun
Syaikh Al Albaani رحمه الله تعالى Berkata Kepada Dukun: “Coba Datangkan Roh Imam Bukhari”
Berikut ini kisahnya:
Ada kabar yang didengar oleh Syaikh Al Albani رحمه الله تعالى bahwa salah seorang tokoh spiritual mampu menghadirkan dan mendatangkan roh. Untuk menghilangkan dan mengingkari kesyirikan, Syaikh pun menemui tokoh tersebut. Gemetarlah sang tokoh karena kedatangan syaikh.
Syaikh mengatakan:
أرجو أن تحضر لي روحا
“Aku harap engkau menghadirkan ruh seseorang untukku.”
Dukun: “Ruh siapa yang kamu inginkan?”
Syaikh menjawab:
أريد روح البخاري
“Aku ingin ruh imam al-Bukhariy”
Dukun: “Apa yang kamu inginkan dari Bukhariy?”
Syaikh menjawab:
أنا عندي أشياء أسألها للبخاري
“Ada hal-hal yang ingin kutanyakan kepada imam Bukhariy”
Dukun menjawab: “Hari ini ruh-ruh terhenti (waktu pemanggilan ruh telah usai). Datanglah kembali hari Senin”.
Syaikh pun mendatanginya hari Senin.
Ternyata tokoh spiritual tersebut kabur dan tempat praktiknya pindah ke tempat lain.
Syaikh paham bahwa sang dukun adalah pendusta ulung. Mereka akan berpura-pura bahwa roh masuk ke tubuh anggota timnya yang dianggap sebagai mediator. Mediator inilah yang akan berbicara seolah-olah roh yang telah dipanggil lah yang sedang berbicara.
Mengetahui bahwa sang mediator tak mungkin memahami ilmu hadits sebagaimana pemahaman imam Al Bukhari maka Syaikh Albaniy pun sengaja meminta agar roh imam Bukhariy dihadirkan guna menanyakan tentang ilmu hadits. Maka tentu sang dukun tak akan mampu bersandiwara dan akhirnya berkilah: “waktu pemanggilan roh telah usai”.
8⃣. Menolong dan membantu orang kafir dalam rangka memerangi kaum muslimin
مظاهرة المشر كين ومعاونتهم على المسلمين
Bersikap wala dan loyal terhadap kafir terutama memerangi muslim
Para ulama merinci kekafiran disini ada dua tingkatan bagi orang yang loyal terhadap orang kafir
◆ 1. Tingkatan kafir
Apabila loyal pada orang kafir, setuju terhadap kekafiran mereka atau membenci atau tidak ingin agama islam di tegakkan, maka ia kafir.
◆ 2. Tingkat dosa besar yaitu dia sikap loyal bukan karena benci islam, bukan setuju terhadap kekafiran mereka, namun karena sesuatu yang sifatnya dunia
Maka itu dosa besar tapi tidak sampai kekafiran.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصٰرٰىٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Ma'idah Ayat 51)
Kenapa rinci sampai 2 tingkatan sedangkan daliln tidak merincinya?
Karena ada hadits dimana shahabat Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu anhu yang membocorkan informasi akan penyerangan kaum muslimin untuk Fathu Makkah, karena beliau melakukan demikian bukan karena benci terhadap islam namun ingin punya jasa terhadap orang kafir agar melindungi keluarganya yang masih tertinggal di mekkah. Sehingga Rasulullah tidak kafirkan Hatib bin Abi Balta'ah, Namun perlu diketahui bahwa jika seorang shahabat melakukan sebuah dosa maka ia akan bertaubat dari dosa tersebut, adapun jika tidak bertaubat maka kesalahannya akan dihapuskan karena kebaikan mereka sangatlah banyak dan ampunan Allah terhadap mereka sangatlah banyak.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَآءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 57)
9⃣. Meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syariat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam*
من اعتقد أن بعض الناس يسعة الخر وج عن شريعة محمد صلى الله عليه وسلم كما وسع الخضر الخروج عن شريعة موسى عليه السلام، فهو كافر
Meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yaitu orang yang mempunyai keyakinan bahwa sebagian manusia diberikan keleluasaan untuk keluar dari sya’riat (ajaran) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Nabi Khidir dibolehkan keluar dari sya’riat Nabi Musa Alaihissallam, maka ia telah kafir.
Masuk ke dalamnya ada dua golongan
◆1. Yaitu sebagian orang sufi, mereka memiliki keyakinan para wali mereka bisa mencapai suatu tingkatan yang bisa keluar dari syariat.
Bahkan mereka menyatakan jika seseorang telah menjadi wali, maka bebas untuk keluar dari syariat karena wali lebih tinggi kedudukannya dibandingkan nabi, waliyadzubillah.
Sehingga mereka bagi agama menjadi tiga yaitu
Syariat, hakekat, dan makrifat.
Sehingga ajaran sufi yaitu adalah ajaran bagi orang yang merendahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam.
Sampai kesesatan mereka ada yang sampai tingkatan wihdatul wujud (menyatu dengan Allah)
Meyakini agama dibagi saja sudah bid'ah termasuk bid'ah apalagi meyakini seseorang bebas keluar dari syariat terlebih telah menyatu dengan Allah.
Dan keyakinan sufi kufur karena mereka mendustakan pengutusan Rasulullah untuk Seluruh ummat.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
قُلْ يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِى لَهُۥ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۖ فَئَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِىِّ الْأُمِّىِّ الَّذِى يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمٰتِهِۦ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Katakanlah (Muhammad), Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk."
(QS. Al-A'raf Ayat 158)
Sehingga jika mereka bebas keluar syariat berarti dusta terhadap ayat.
◆2. Golongan liberal (Islam Nusantara)
Mereka mengatakan sebagian ajaran islam tidak cocok di Nusantara, bahkan mereka menganggap ajara di nusantara warisan nenek moyang mereka yang sesat dianggap sebagai ajaran islam padahal ajaran tersebut bertentangan dengan islam.
Mereka juga menolak ajaran islam karena tidak cocok di Nusantara.
Syubhat!!!
Sama saja dengan nabi Khidir alaihissalam, nabi Khidir alaihissalam tidak mengikuti syariat nabi Musa alaihissalam.
Ternyata orang sesat juga punya dalil, sehingga memberikan pelajaran bagi kita tidak semua bahwa orang yanh memiliki dalil maka bukan jaminan dia di atas kebenaran, memang hafalan mereka bagus namun patokan kebenaran kebenaran, jaminan kebenaran adalah membawakan sebuah dalil sesuai dengan pemahaman para shabaat dan yang mengikuti mereka.
Dalil mereka berlepas syariat dengan kisah nabi Khidir alaihissalam dimana Khidir alaihissalam mereka anggap sebagai wali dan Musa alaihissalam adalah nabi, sehingga Khidir alaihissalam lebih tinggi derajatnya dari Musa alaihissalam sehingga boleh keluar dari syari'at
Maka Jawaban Syubhatnya adalah
◆1. Nabi Khidir alaihissalam jelas-jelas melakukan perbuatan beliau karena mendapatkan wahyu dari Allah sehingga ia mengatakan,
ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى
"..Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri.."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 82)
Khidir dapat Wahyu dari Allah sedangkan mereka dari setan.
◆2. Jika kita meneliti kisahnya kita akan mendapatkan bahwa Khidir alaihissalam tidak menyelisihi syariat Musa alaihissalam karena Musa alaihissalam tidak mengetahui alasan beliau membunuh anak kecil, melubangi kapal, namun setelah Khidir alaihissalam menjelaskan maka nabi Musa alaihissalam tidak lagi menyalahkan, sehingga Khaidir tidak menyelisihi syariat.
◆3. Andai benar nabi Khidir alaihissalam menentang syariat Musa alaihissalam maka dizaman itu memang boleh karena para nabi dan rasul diutus untuk kaumnya saja dan nabi Khidir alaihissalam bukan termasuk kaum nabi Musa alaihissalam, sehingga Khidir alaihissalam merupakan seorang nabi yang diutus untuk kaum yang lain.
Adapun syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam diutus untuk seluruh umat manusia.
Dari Shahabat Jabir bin Abdillah berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
"Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya."
(HR. Bukhari, no: 335)
Sehingga tidak bisa berdalil dengan ummat terdahulu, namun yang tidak pernah berubah adalah mentauhidkan Allah dan larangan berbuat syirik dari nabi Adam alaihissalam sampai Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Adapun dari segi hukum syariat maka terdapat perbedaan.
◆4. Nabi Khidir alaihissalam bukanlah wali namun nabi, karena ia diberikan wahyu oleh Allah sehingga mengetahui perkara ghaib, ia mengetahui anak yang kelak akan menyebabkan orang tua nya menjadi kufur. Karena hakikat yang mengetahui perkara ghaib nabi dan rasul.
Allah subhanahu wata'ala berfirman,
عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهِۦٓ أَحَدًا، إِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُولٍ فَإِنَّهُۥ يَسْلُكُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ رَصَدًا
"Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya."
(QS. Al-Jinn Ayat 27)
🔟. Berpaling dari agama Allah, ia tidak mempelajarinya dan beramal dengannya
الإعراض عن دين الله تعالى، لا يتعلمه، ولا يعمل به
Berpaling dari agama Allah Ta’ala, ia tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya.
Maksud berpaling dari agama allah menjadi dua makna
◆1. Berpaling secara menyeluruh
sama sekali tidak mau belajar, maka ia kafir.
◆2. Dia tidak mencintai islam walau dia tidak memusuhinya, sehingga dia memilih netral maka dia kufur. Karena maksud netral itu tidak membenci dan tidak mencintai, walau dia telah masuk islam, dan dia tidak mencintai sehingga tidak belajar agama, sehingga tidak mungkin seseorang melakukan sebuah amalan tetapi tidak mengetahui ilmunya.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِئَايٰتِ رَبِّهِۦ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَآ ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa."
(QS. As-Sajdah Ayat 22)
Penutup
Dan tidak ada bedanya dalam pembatal keislaman ini antara orang yang main-main, sungguh-sungguh dan orang yang takut, sehingga tidak boleh beralasan karenanya.
1. Kecuali orang yang dipaksa, maksud dipaksa adalah ketika dia diperintahkan melakukan kekafiran dengan ancaman bahaya besar seperti dibunuh. Namun, jika hanya sebatas ancaman seperti dipecat dalam pekerjaan maka hal ini bukan termasuk ke dalam darurat yang dipaksa.
2. Syarat kedua yaitu hatinya tetap beriman, jika hatinya jadi kafir maka dia tetap kafir walau melakukan sesuatu tersebut dipaksa, kenapa?
Karena hati tidak mungkin bisa dipaksa.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنۢ بَعْدِ إِيمٰنِهِۦٓ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُۥ مُطْمَئِنٌّۢ بِالْإِيمٰنِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar."
(QS. An-Nahl Ayat 106)
Semua pembatal keislaman ini merupakan yang paling besar dan paling banyak terjadi, sehingga seorang muslim hendaknya berhati-hati terhadap hal-hal yang menyebabkan kekufuran.
Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkannya. Semoga Allah selalu memberi kita ilmu yang bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Walhamdulillah.
┄┅═══•❃📖❃•═══┅┄
فَلْيُبَلِّغْ الشَاهِدُ الغَائِبَ
“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
(HR. al-Bukhari dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu)
Semoga tulisan singkat ini bisa menambah pengetahuan hal-hal yang dapat membatalkan keislaman dan memotivasi kita untuk terus menuntut ilmu karena ilmu agama ini begitu luas.
Semoga Allaah memberi petunjuk kepada kita semua untuk selalu ta'at kepadanya.
Wallaahu 'alam
Semoga Bermanfaat
بارك اللّه فيكم
Oleh : Doni Setio Pambudi (Abu Ubaidillah).
Langganan:
Komentar (Atom)